
Pengendara rela antre mengisi BBM di SPBU Shell Meruya Utara, Kembangan, Jakarta Barat, Jumat (19/9) siang. (Ryandi Zahdomo/JawaPos.com)
JawaPos.com – Pelemahan rupiah yang ditutup di level Rp 16.749 per dolar AS pada Kamis (25/9) tak hanya jadi perhatian pelaku pasar, namun juga langsung berimbas ke masyarakat. Nilai tukar yang kian tertekan dipastikan memicu kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok hingga barang impor.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menegaskan, jika rupiah kembali melemah bahkan mencapai ke level Rp 16.800 bahkan Rp 17.000, dampaknya akan terasa signifikan bagi rakyat.
“Kalau rupiah ini melemah, kembali ke Rp 16.800, Rp 17.000, ini akan berdampak terhadap harga-harga komoditas yang impor. Contohnya, BBM. Indonesia itu impor BBM atau minyak mentah itu Rp1 juta barel per hari. Ini akan terkuras uangnya pada saat rupiahnya mengalami pelemahan,” jelas Ibrahim kepada JawaPos.com, Kamis (25/9).
Lebih lanjut, dia membeberkan bahwa pelemahan rupiah akan membuat harga kebutuhan berbasis impor seperti kedelai, jagung, pupuk, hingga barang-barang elektronik ikut terkerek.
Itu sebabnya, kata dia, pelemahan nilai tukar rupiah akan berdampak signifikan pada tarif transportasi hingga sejumlah komoditas di pasar tradisional. Kenaikan kedelai, lanjutnya, otomatis berimbas pada harga tempe yang jadi makanan sehari-hari masyarakat.
“Nah, misal BBM. BBM naik, kemudian bahan bakar minyak non-subsidi dan subsidi itu naik. Apa dampaknya? Dampaknya nanti terhadap transportasi. Kalau transportasi naik, berarti harga-harga komoditas di pasar tradisional juga ikut mengalami kenaikan,” tegasnya.
“Kacang kedelai akan naik. Dampaknya apa? Ya nanti terhadap ini, pembuatan tempe pun juga akan mengalami kenaikan harganya,” imbuh Ibrahim.
Selain itu, Ibrahim juga menyebut, harga jagung pun tak luput terdampak. Sebab, jagung merupakan bahan utama pakan ternak. Lantaran harga pakan yang naik, maka ia menyebut harga ayam potong dan telur ayam ras berpotensi akan ikut terkerek juga.
“Ini yang harganya naik tinggi, ya itu kan berdampak terhadap apa? Makanan ternak. Ya sehingga apa? Harga ayam potong naik, kemudian harga telur pun juga ikut mengalami kenaikan,” bebernya.
Kemudian, harga pupuk pun akan ikut terkerek mahal. Hal ini seiring dengan komoditasnya yang masih mengandalkan impor. Dengan begitu, kata Ibrahim, pelemahan nilai tukar akan membuat para petani makin terbebani oleh kenaikan harga itu.
Di sisi lain, harga elektronik yang juga mengandalkan impor bakal semakin mahal. Kondisi ini berpotensi memperburuk inflasi di tengah daya beli masyarakat yang sudah menurun.
“Sedangkan saat ini ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Daya beli masyarakat sedang turun. Nah ini yang akan berdampak negatif,” ujarnya.
Ibrahim menekankan pemerintah harus segera turun tangan untuk mengantisipasi efek domino pelemahan rupiah ini. Salah satunya dengan segera menggelontorkan subsidi kepada masyarakat.
“Sehingga pemerintah harus melakukan intervensi dengan cara apa? Melakukan subsidi. Kalau tidak dilakukan seperti itu, akan bermasalah di kemudian harinya,” pungkas Ibrahim.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Nathalie Holscher-Aripat Menikah, Sule Titip Pesan untuk Adzam, Balasan Nathalie Jadi Sorotan
Mengulas Dugaan Kejanggalan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Analis Ungkap Strategi Iran Pilih Sasar Negara Teluk Tanpa Serang Kapal Induk AS
