
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira. (Dok. Agas Putra Hartanto/Jawa Pos).
JawaPos.com - Rencana merger antara Pelita Air dan Garuda Indonesia menuai sorotan. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adinegara menilai, langkah ini berisiko tinggi dan berpotensi menimbulkan masalah baru di sektor penerbangan nasional.
Menurut dia, kondisi keuangan kedua maskapai tersebut sangat berbeda jauh. Pelita Air tercatat memiliki posisi keuangan yang jauh lebih stabil dan bahkan mampu bersaing secara sehat dengan maskapai swasta lain. Bahkan, menempati urutan pertama maskapai paling tepat waktu (on-time performance) dengan tingkat 94,3 persen sepanjang 2024.
"Kenapa yang sehat digabung dengan maskapai bermasalah?" ujar Bhima, Selasa (16/9).
Sebaliknya, Garuda Indonesia masih berjuang dengan performa keuangan yang sangat buruk. Laba bersih Garuda masih minus 129 persen Year-on-Year (YoY) pada 2024. Jauh lebih buruk dibandingkan performa tahun sebelumnya.
"Kalau dasarnya hanya BUMN bisa fokus di core business-nya, maka core business Garuda sendiri bermasalah. Dari segi keuangan mergernya tidak layak. Kecuali perusahaan yang punya core business performa nya baik, beda cerita," terang lulusan University of Bradford itu.
Selain masalah keuangan, Bhima juga mengingatkan potensi dampak negatif pada operasional Pelita Air pasca-merger. Imbasnya ke penurunan jumlah rute. Mengingat, Pelita Air selama ini bersaing ketat dengan Citilink, anak usaha Garuda yang bergerak di segmen low cost carrier.
Setelah merger, kemungkinan besar Citilink akan menjadi pemenang dalam persaingan rute domestik. Sehingga, memicu terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) di Pelita Air. Malah menjadi masalah baru lagi nantinya.
"Tidak mungkin maskapai low cost carrier di pasar domestik yang sama dan induk usaha yang sama mau berbagi rute," katanya.
Sebagai alternatif, Bhima menyarankan agar Danantara lebih baik fokus memperbaiki kondisi keuangan Garuda terlebih dahulu. Mengusut penyelesaian kasus miss-management dan restrukturisasi utang. Jangan sampai masalah maskapai kebanggan tanah air diseret ke BUMN lainnya.
"Ini namanya burden sharing (berbagi beban) bukan profit sharing," tandasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Groningen vs PEC Zwolle di Liga Belanda: Trots van het Noorden Menang Tipis di Kandang
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Liga Inggris: The Toffees Kunci 3 Poin di Kandang
Prediksi Skor Espanyol vs Elche di Liga Spanyol: Los Franjiverdes Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Liga Inggris: The Lilywhites Bakal Sulit Menang!
Prediksi Susunan Pemain Persebaya vs Garudayaksa FC: Risto Mitrevski Pantang Remehkan Tim Promosi
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022