
Chief Economist Bank Permata Josua Pardede. (Istimewa).
JawaPos.com - Neraca perdagangan Juli 2025 kembali surplus USD 4,17 miliar. Meski begitu, perlu mewaspadai risiko dari kebijakan tarif di Amerika Serikat (AS) ke depan.
Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menuturkan, neraca perdagangan mencatat surplus selama 63 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Ekspor total naik 9,86 persen year-on-year (YoY). Ditopang produk nonmigas tumbuh 12,83 persen YoY.
Sedangkan, impor turun 5,86 persen YoY. Meski nilai impor barang modal naik sebesar 18,84 persen YoY. "Menandakan masih adanya rencana investasi," ujar Josua kepada Jawa Pos, Selasa (2/9).
Ke depan, risiko dari kebijakan tarif di AS perlu dibaca dalam dua jalur. Pertama, jika tarif menyeluruh diberlakukan, margin harga produk Indonesia di pasar AS dapat tergerus. Khususnya, pada komoditas padat karya seperti pakaian, alas kaki, furnitur, karet olahan, dan elektronik ringan. Sehingga laju ekspor ke AS berpotensi melambat.
Kedua, bila fokus tarif terutama mengarah pada Tiongkok, Indonesia bisa terdorong lewat peralihan pesanan. Tapi manfaatnya bergantung pada aturan asal barang dan kandungan antara yang banyak bersumber dari Tiongkok. Hal itu membuat mata rantai pasok yang terpapar komponen impor bisa tetap menghadapi kenaikan biaya.
Di sisi komoditas, tarif global yang memicu perlambatan perdagangan dunia dapat menekan harga batubara dan logam. Sedangkan minyak sawit lebih dipengaruhi sentimen substitusi minyak nabati dan kebijakan energi terbarukan mitra dagang. Strategi penyangga yang realistis adalah memperdalam diversifikasi pasar seperti ASEAN, India, dan Timur Tengah.
"Juga mempercepat hilirisasi bernilai tambah agar daya saing berbasis kualitas-spesifikasi. Serta mengurangi ketergantungan input impor tertentu agar ongkos produksi tidak melonjak saat kurs melemah," terangnya.
Survei manufaktur terbaru yang kembali ekspansif. Purchasing managers' index (PMI) Indonesia Agustus kembali ke level 51,5. Indikator ini memberi bantalan bahwa permintaan masih hidup. Tapi juga mengisyaratkan kenaikan biaya input karena penguatan dolar AS (USD).
"Ini perlu diimbangi efisiensi dan substitusi bahan baku," ucap alumnus University of Amsterdam itu.
Josua menilai, surplus dagang masih mencerminkan kinerja perdagangan yang cukup baik. Didukung industri pengolahan dan minyak sawit dengan batubara yang membaik secara bulanan. Tapi masih lebih rendah dibanding tahun lalu.
Risiko dari kebijakan tarif di AS layak diantisipasi melalui diversifikasi pasar, penguatan kandungan lokal, dan percepatan hilirisasi agar surplus tetap berkelanjutan.
Secara sektoral, penopang ekspor nonmigas tahun berjalan adalah minyak sawit. Sementara batubara melemah dibanding tahun lalu walau membaik dibanding bulan sebelumnya. Struktur ekspor juga ditopang industri pengolahan yang porsinya sekitar 80 persen pada Januari-Juli 2025.
"Ini berarti kualitas surplus masih cukup baik, ditopang industri dan komoditas, bukan semata pelemahan impor konsumsi," tandasnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini menyampaikan, surplus pada Juli ini terutama ditopang oleh neraca perdagangan non-migas yang mencatatkan surplus USD 5,75 miliar. Tiga komoditas utama yang berkontribusi adalah lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Neraca perdagangan komoditas migas masih mencatat defisit sebesar USD 1,58 miliar. Pudji menyebut, defisit ini berasal impor hasil minyak dan minyak mentah selama bulan Juli. Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia selama Januari hingga Juli 2025 membukukan surplus USD 23,65 miliar.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
