Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 3 September 2025 | 15.04 WIB

Meski Neraca Dagang Surplus, Risiko Implementasi Kebijakan Tarif AS Perlu Dikalkulasi

Chief Economist Bank Permata Josua Pardede. (Istimewa). - Image

Chief Economist Bank Permata Josua Pardede. (Istimewa).

JawaPos.com - Neraca perdagangan Juli 2025 kembali surplus USD 4,17 miliar. Meski begitu, perlu mewaspadai risiko dari kebijakan tarif di Amerika Serikat (AS) ke depan.

Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menuturkan, neraca perdagangan mencatat surplus selama 63 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Ekspor total naik 9,86 persen year-on-year (YoY). Ditopang produk nonmigas tumbuh 12,83 persen YoY.

Sedangkan, impor turun 5,86 persen YoY. Meski nilai impor barang modal naik sebesar 18,84 persen YoY. "Menandakan masih adanya rencana investasi," ujar Josua kepada Jawa Pos, Selasa (2/9).

Ke depan, risiko dari kebijakan tarif di AS perlu dibaca dalam dua jalur. Pertama, jika tarif menyeluruh diberlakukan, margin harga produk Indonesia di pasar AS dapat tergerus. Khususnya, pada komoditas padat karya seperti pakaian, alas kaki, furnitur, karet olahan, dan elektronik ringan. Sehingga laju ekspor ke AS berpotensi melambat.

Kedua, bila fokus tarif terutama mengarah pada Tiongkok, Indonesia bisa terdorong lewat peralihan pesanan. Tapi manfaatnya bergantung pada aturan asal barang dan kandungan antara yang banyak bersumber dari Tiongkok. Hal itu membuat mata rantai pasok yang terpapar komponen impor bisa tetap menghadapi kenaikan biaya.

Di sisi komoditas, tarif global yang memicu perlambatan perdagangan dunia dapat menekan harga batubara dan logam. Sedangkan minyak sawit lebih dipengaruhi sentimen substitusi minyak nabati dan kebijakan energi terbarukan mitra dagang. Strategi penyangga yang realistis adalah memperdalam diversifikasi pasar seperti ASEAN, India, dan Timur Tengah.

"Juga mempercepat hilirisasi bernilai tambah agar daya saing berbasis kualitas-spesifikasi. Serta mengurangi ketergantungan input impor tertentu agar ongkos produksi tidak melonjak saat kurs melemah," terangnya.

Survei manufaktur terbaru yang kembali ekspansif. Purchasing managers' index (PMI) Indonesia Agustus kembali ke level 51,5. Indikator ini memberi bantalan bahwa permintaan masih hidup. Tapi juga mengisyaratkan kenaikan biaya input karena penguatan dolar AS (USD).

"Ini perlu diimbangi efisiensi dan substitusi bahan baku," ucap alumnus University of Amsterdam itu.

Josua menilai, surplus dagang masih mencerminkan kinerja perdagangan yang cukup baik. Didukung industri pengolahan dan minyak sawit dengan batubara yang membaik secara bulanan. Tapi masih lebih rendah dibanding tahun lalu.

Risiko dari kebijakan tarif di AS layak diantisipasi melalui diversifikasi pasar, penguatan kandungan lokal, dan percepatan hilirisasi agar surplus tetap berkelanjutan.

Secara sektoral, penopang ekspor nonmigas tahun berjalan adalah minyak sawit. Sementara batubara melemah dibanding tahun lalu walau membaik dibanding bulan sebelumnya. Struktur ekspor juga ditopang industri pengolahan yang porsinya sekitar 80 persen pada Januari-Juli 2025.

"Ini berarti kualitas surplus masih cukup baik, ditopang industri dan komoditas, bukan semata pelemahan impor konsumsi," tandasnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini menyampaikan, surplus pada Juli ini terutama ditopang oleh neraca perdagangan non-migas yang mencatatkan surplus USD 5,75 miliar. Tiga komoditas utama yang berkontribusi adalah lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Neraca perdagangan komoditas migas masih mencatat defisit sebesar USD 1,58 miliar. Pudji menyebut, defisit ini berasal impor hasil minyak dan minyak mentah selama bulan Juli. Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia selama Januari hingga Juli 2025 membukukan surplus USD 23,65 miliar.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore