Jalan rusak digenangi air di Jalan Raya, Parung Panjang, Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/3). (DERY RIDWANSAH/JAWAPOS.COM)
"Nggak muluk-muluk perekonomian ditingkatkan 8 persen, kita cuma minta jalan diperbaiki, truk tambang diatur" (Sutisna, Warga Parung Panjang)
JawaPos.com - Delapan puluh tahun Indonesia merdeka, pembangunan infrastruktur masih belum merata di penjuru Nusantara. Tak perlu jauh-jauh menengok pelosok timur Indonesia. Wilayah Kecamatan Parung panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat saja yang hanya beberapa jengkal dari Ibu Kota, terkenal dengan jalannya yang rusak parah. Bagaimana tidak, dari 18,3 kilometer jalan di sana, setengahnya atau 14 kilometer merupakan jalan rusak.
Cara melihatnya mudah. Anda akan menikmati jalan dengan cor beton jika melintas dari Kabupaten Tangerang menuju Parung Panjang. Jika menemui jalan aspal yang sudah bergelombang dan rusak parah, selamat, tandanya Anda sudah berada di wilayah Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Jalan rusak itu disebabkan infrastruktur jalan yang tidak memadai. Sedikitnya, 2.500 truk tambang, dengan berat masing-masing 7-60 ton, melintas di Parung Panjang. Jalan yang tidak kuat menahan beban kendaraan akhirnya rusak parah.
Jalan rusak dan truk-truk besar tanpa ketegasan pengaturan jam operasional menyebabkan tingginya angka kecelakaan. Dalam 6 tahun terakhir, hingga Februari 2025, tercatat sebanyak 194 orang meninggal dunia akibat insiden kecelakaan di Parung Panjang.
"Kalau sekarang mah makin parah, (operasional truk tambang) dibebasin aja. Pada capek kali petugas ngaturnya," keluh Samad, 54, warga Desa Parung Panjang, saat ditemui JawaPos.com.
Samad menyebut, pengaturan jam operasional truk tambang sudah tidak lagi berlaku. Sejak pagi, jalanan sudah macet. Anak-anak yang berangkat sekolah pun harus berimpitan di antara macetnya truk tambang.
"Kalau kita kasihan anak sekolah aja," ucapnya.
Samad menyebut, perayaan kemerdekaan di Parung Panjang tahun ini tidaklah semeriah tahun-tahun sebelumnya. "Biasanya 17an banyak yang lomba gerak jalan lewat sini. Sekarang sudah nggak ada, karena macet kali ya," katanya.
Ratusan bahkan ribuan truk tambang hilir mudik wilayah Parung Panjang setiap hari, Kamis (14/8). (Ryandi Zahdomo/Jawapos)
Tak hanya itu, penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA juga mengintai warga Parung Panjang. Bagaimana tidak, kabut debu memang sudah menjadi pemandangan sehari-hari warga.
Hampir seluruh warga di sana mengenakan masker saat keluar rumah atau mengendarai motor. Samad menyebut, jika sedang musim kemarau, debu yang beterbangan semakin pekat.
Sutisna alias Gaces, 40, warga Parung panjang mengeluhkan polusi debu yang terjadi di wilayahnya. "Sekarang lagi musim hujan aja begini debunya. Kalau musim kemarau lebih parah," terangnya.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
