
Ilustrasi rupiah melenah terhadap dollar Amerika Serikat. (Dok. JawaPos.com)
JawaPos.com - Nilai tukar atau kurs rupiah melemah tipis 6 poin di level Rp 16.292 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan akhir perdagangan pada Jumat (8/8). Sebelumnya, rupiah sempat menguat 15 poin ke level Rp 16.286 per dolar AS.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menyampaikan rupiah ditutup lemah imbas para pedagang yang memperhatikan pidato para pejabat The Fed, untuk mendapatkan isyarat tentang langkah bank sentral selanjutnya.
"Presiden Fed Atlanta, Raphael Bostic, menegaskan kembali pandangannya bahwa satu kali pemotongan suku bunga sudah tepat untuk tahun ini, tetapi menambahkan bahwa masih banyak data yang harus ditunggu sebelum pertemuan berikutnya," kata Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (8/8).
Di sisi lain, sebuah laporan Bloomberg mengatakan Gubernur Fed Christopher Waller telah muncul sebagai pilihan utama Trump untuk menggantikan Ketua Fed saat ini, Jerome Powell, yang akan mengundurkan diri pada pertengahan 2026.
Untuk diketahui, Waller termasuk di antara dua anggota dewan Fed yang memberikan suara untuk penurunan suku bunga pada bulan Juli, sejalan dengan tuntutan Trump.
Sementara itu, rupiah yang melemah juga disebabkan oleh target pemerintah yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di atas 5–6 persen dan memerlukan strategi tepat agar dua mesin utama penggerak ekonomi, yakni sektor pemerintah dan swasta, bisa berjalan seimbang.
Sedangkan, hingga saat ini kekuatan ekonomi Indonesia masih bertumpu pada permintaan domestik, yakni konsumsi dan investasi (PMTB), yang pada Juni 2025 menyumbang 90 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
"Dua mesin penggerak ekonomi, pemerintah dan swasta, harus berfungsi bersama. Selama ini, selalu timpang. Satu mati, satu jalan. Itu tidak cukup," ujar Ibrahim.
Sebagai contoh, kata dia, di era Presiden SBY saat harga komoditas tinggi, ekonomi didorong sektor swasta dan utang pemerintah menurun. Sebaliknya, di era Presiden Jokowi, peran pemerintah dominan, terutama saat pandemi.
Meski tantangan global seperti geopolitik dan ketidakpastian ekonomi terus membayangi, Namun pentingnya menjaga momentum domestik, apalagi kontribusinya terhadap ekonomi mencapai 80 persen. Program seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Merah Putih sangat baik untuk menjaga stabilitas, tapi jangan abaikan sektor swasta.
Selain itu, pemerintah juga perlu mendorong perbankan lebih agresif menyalurkan pembiayaan ke dunia usaha untuk menghidupkan sisi konsumsi dan investasi. "Apalagi bank Indonesia terus menurunkan suku bunga acuan, sehingga para kreditur (pengusaha) kembali rame mendapatkan pinjaman dari debitor( perbankan)," pungkasnya.

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
5 Bintang Sepak Bola yang Alami Kenaikan Nilai Pasar setelah Piala Dunia FIFA 2026
Prediksi PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Ujian Berat Ayam Kinantan Hadapi Sang Juara Bertahan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
