
Ilustrasi ekonomi lesu berdampak pada daya beli masyarakat. (Hanung Hambara/Jawa Pos)
JawaPos.com - Fenomena soal penyebutan rombongan jarang beli (Rojali) dan rombongan hanya nanya (Rohana) sedang ramai diperbincangkan di media sosial.
Tren yang terlihat jenaka ini sebetulnya menggambarkan persoalan serius mengenai daya beli masyarakat yang kian tertekan dan menurun.
Anggota Komisi XI DPR RI Charles Meikyansah merasa miris terkait turunnya daya beli masyarakat. Ia meminta Pemerintah bertindak serius dalam menyikapi perekonomian rakyat.
"Fenomena ini menggambarkan bagaimana masyarakat saat ini cenderung menahan konsumsi, sebagai respons atas stagnasi pendapatan dan beban fiskal yang dinilai masih cukup berat," kata Charles kepada wartawan, Jumat (1/8).
Ia menjelaskan, banyak masyarakat yang kini menganggap aktivitas belanja di luar kebutuhan pokok sebagai bentuk kemewahan. Sebagian besar penghasilan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, tanpa ruang untuk konsumsi tambahan.
"Kondisi daya beli masyarakat menunjukkan adanya penyesuaian pola konsumsi, di mana prioritas diberikan pada kebutuhan dasar seiring dengan tekanan ekonomi yang ada," ujarnya.
Istilah Rojali dan Rohana, yang muncul sebagai sindiran lucu di tengah masyarakat, mencerminkan perubahan perilaku konsumen.
Rojali biasa disematkan pada pengunjung pusat perbelanjaan yang datang beramai-ramai namun hanya berjalan-jalan tanpa membeli.
Sementara Rohana menggambarkan mereka yang hanya bertanya-tanya harga atau spesifikasi barang, namun tidak jadi bertransaksi.
Namun Charles menilai, meskipun istilah-istilah tersebut viral dengan nada humor, mereka menyiratkan sinyal penting bagi pemerintah. Ia mendorong agar kebijakan fiskal ditinjau kembali agar sejalan dengan kebutuhan rakyat.
"Dalam konteks perlambatan konsumsi masyarakat, evaluasi diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara penerimaan negara dan daya beli masyarakat," tegasnya.
Menurut Charles, perlu ada langkah reformasi fiskal yang konkret. Ia menyarankan perluasan bantuan sosial berbasis konsumsi dan penguatan subsidi, terutama energi dan pangan, untuk melindungi masyarakat dari tekanan inflasi.
"Perluasan skema bantuan sosial berbasis konsumsi perlu dipertimbangkan, termasuk penguatan subsidi energi dan pangan sebagai bantalan terhadap inflasi," jelasnya.
Charles juga meyakini pemerintahan Presiden Prabowo Subianto akan menaruh perhatian terhadap fenomena ini. Menurutnya, Presiden Prabowo memiliki kepedulian besar terhadap isu ekonomi kerakyatan.
“Kita tahu Presiden Prabowo Subianto sangat concern terhadap persoalan ekonomi, khususnya ekonomi kerakyatan. Jadi saya yakin pemerintahan Presiden Prabowo akan melakukan intervensi-intervensi terhadap fenomena ini,” urainya.

Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Port FC di Piala Presiden 2026: Green Force Bisa Sapu Bersih Laga!
Update Kondisi Alex Martins! Dibawa ke Rumah Sakit, Pelatih Persebaya Surabaya Tunggu Kabar Terbaru
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Voli Indonesia Berduka, Mantan Pemain Jakarta Pertamina Enduro Meninggal Dunia
Prediksi Skor Persija Jakarta vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Macan Kemayoran Jaga Asa ke Semifinal!
Jadwal Aston Villa vs Indonesia All Stars: Jam Kick-off, Siaran Langsung, dan Daftar Skuad
Hasil Babak Pertama Persebaya vs Port FC: Miguel Pereira Cetak Gol Perdana, Skor Masih 1-1
Prediksi Persebaya Surabaya vs Port FC: Bruno Moreira Dikabarkan Cedera, Bernardo Tavares Buka Peluang Rotasi Pemain
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
