Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 11 Juli 2025 | 02.34 WIB

INA Catat Investasi Kumulatif Rp 65,4 Triliun, Perkuat Empat Sektor Strategis

ILUSTRASI Ekspor LNG. (ANTARA) - Image

ILUSTRASI Ekspor LNG. (ANTARA)

JawaPos.com - Indonesia Investment Authority (INA) melaporkan total nilai penanaman modal kumulatif mencapai Rp65,4 triliun sejak lembaga tersebut berdiri pada 2020 hingga Mei 2025. Empat sektor strategis menjadi fokus INA untuk pengelolaan investasi.

Ketua Dewan Direktur INA Ridha Wirakusumah menegaskan bahwa strategi investasi lembaganya berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang dengan dampak pembangunan yang signifikan bagi Indonesia. Selama tahun 2024, INA berhasil menarik investasi asing langsung (FDI) senilai Rp 13,8 triliun, atau sekitar 2,5 kali lipat dari nilai investasi ekuitas INA pada periode yang sama.

Dalam tahun tersebut, INA merealisasikan delapan proyek investasi senilai total Rp 19,5 triliun. "Dari jumlah tersebut, Rp5,6 triliun berasal dari kontribusi INA, sedangkan Rp 13,8 triliun berasal dari mitra investor," ujar Ridha.

Secara akumulatif, hingga Desember 2024, total transaksi yang telah direalisasikan mencapai Rp 60,9 triliun dari 15 proyek. Kontribusi INA tercatat sebesar Rp 24,9 triliun dan sisanya Rp 36 triliun berasal dari para mitra.

Ridha membeberkan, fokus investasi INA diarahkan ke empat sektor prioritas nasional, yakni transportasi dan logistik, energi hijau dan transformasi, infrastruktur digital, serta kesehatan. "Salah satu langkah penting INA di sektor transportasi dan logistik adalah pengelolaan Pelabuhan Belawan New Container Terminal (BNCT) yang dimulai pada Januari 2024 bersama DP World dan Pelindo," tambah Ridha.

Sepanjang tahun, pelabuhan tersebut menangani lebih dari 600.000 TEUs dari 16 jalur pelayaran reguler, dengan lima operator pelayaran global menyumbang 62,5 persen dari volume total. Untuk memperkuat ekosistem logistik, INA juga menjalin kemitraan dengan ESR dan Mitsubishi Corporation Urban Development Indonesia (MCUDI) dalam pengembangan jaringan gudang modern di Indonesia.

Di sektor jalan tol, INA memfasilitasi investasi dari Abu Dhabi Investment Authority (ADIA) dan APG Asset Management di ruas Medan–Binjai dan Bakauheni–Terbanggi Besar dengan nilai total Rp 8,2 triliun. Di bidang digital, INA menggandeng DayOne, atau sebelumnya dikenal sebagai GDS, untuk membentuk perusahaan patungan dalam membangun platform pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) di Indonesia.

Sementara di sektor kesehatan, INA dan Swire Pacific Limited menuntaskan fase awal investasi di PT Pertamina Bina Medika IHC pada Juli 2024. "INA juga mendukung pembangunan fasilitas fraksionasi plasma pertama di Indonesia bersama SK Plasma, bekerja sama dengan PMI dan rumah sakit pemerintah," tegasnya.

Total Asset Under Management (AUM) INA bersama mitra investor mencapai Rp 144,3 triliun per akhir 2024, melonjak 92 persen dibanding awal pendirian. Dari sisi kinerja, INA mencetak laba bersih Rp 5,4 triliun pada 2024, tumbuh 26,2 persen dari Rp 4,3 triliun pada 2023.

Tahun yang sama, INA juga meraih peringkat kredit pertamanya dari Fitch Ratings, yakni BBB untuk internasional dan AAA (idn) untuk domestik. Masih soal investasi, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) belum lama ini menyebutkan bahwa pihaknya tengah merevisi tiga peraturan pelaksana yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko.

Revisi itu disebut dapat mempercepat realisasi investasi di berbagai sektor. Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM Todotua Pasaribu mengatakan bahwa revisi itu bakal menyasar sistem perizinan berusaha berbasis risiko terintegrasi secara elektronik, pedoman dan tata cara pelayanan perizinan berusaha berbasis risiko dan fasilitas penanaman modal, serta pedoman dan tata cara pengawasan perizinan berusaha berbasis risiko.

"Target pertumbuhan ekonomi ini adalah angka yang cukup ambisius, tetapi juga realistik apabila bisa dikerjakan," ujar Todotua.

Menurut Todotua, menyelesaikan masalah perizinan berusaha dan mengejar pendapatan negara yang lebih stabil dalam sektor investasi adalah hal yang wajib dilakukan. "Persoalan seperti perizinan dan iklim investasi yang tidak kondusif, serta berbagai macam kebijakan tumpang tindih membuat angka unrealisasi investasi itu menjadi tinggi," beber Todotua.

Dengan dilakukannya revisi tiga Peraturan Menteri Investasi itu, Todotua berharap bisa mempercepat dan mempermudah proses perizinan berusaha. Dia juga mengklaim akan melibatkan para pelaku usaha untuk memberi catatan terhadap penyempurnaan kebijakan investasi itu di kemudian hari.

Realisasi PMA & PMDN di Indonesia

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore