
The Federal Reserve (The Fed)
JawaPos.com - Dinamika ekonomi global memengaruhi perekonomian Indonesia. Sebagai negara berkembang yang menjadi emerging market, Indonesia mewaspadai wacana kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) alias The Fed.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Nathan Kacaribu menyatakan bahwa pemerintah tidak hanya menyoroti dampak ekonomi pandemi Covid-19. Namun, pemerintah juga memperhatikan potensi taper tantrum yang bisa terjadi pada tahun depan.
Febrio menjelaskan bahwa inflasi AS masih terus meningkat sampai sekarang. Pada April, inflasi di Negeri Paman Sam itu mencapai angka 4,2 persen.
Kondisi tersebut akan berdampak pada kebijakan suku bunga The Fed. Jika inflasi meningkat, kemungkinan suku bunga akan naik juga besar.
"Ekspektasi inflasi ini yang kita waspadai dan mulai membuat pasar khawatir. Meski mulai membaik, inflasi bisa mendorong The Fed menaikkan suku bunga," jelas Febrio pada akhir pekan lalu.
Senada, Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro BKF Kemenkeu Hidayat Amir menyatakan bahwa pemerintah memang perlu mewaspadai naiknya suku bunga The Fed.
"Saat suku bunga rendah, berarti situasi sedang tidak normal. Nah, nanti saat kembali normal pasti berbalik. Itu yang dikhawatirkan," tuturnya.
Naiknya suku bunga The Fed bisa mendorong aliran modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia. Kondisi itu berpotensi menekan nilai tukar rupiah.
Menurut Hidayat, ada dua langkah untuk mengantisipasinya. Yakni, membuat kebijakan dengan pedoman forward looking dan mengirimkan sinyal kepada masyarakat.
"Pemerintah melakukan signaling dengan mengomunikasikan kepada publik tentang ketidakpastian tersebut," ujarnya.
Kendati demikian, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memandang bahwa saat ini Indonesia sudah lebih siap menghadapi dinamika ekonomi. Itu terlihat dari langkah pemerintah dalam menangani pandemi dan menerapkan kebijakan pemulihan ekonomi nasional.
Kebijakan yang tepat, menurut Josua, akan membuat investor tetap berminat menanamkan modal di Indonesia. Sementara itu, fleksibilitas APBN dengan prinsip yang prudent akan memitigasi risiko taper tantrum.
"Kita harapkan dengan menjaga fundamental, kita bisa memitigasi risiko taper tantrum. Bagaimana indikator rasio utang, likuiditas inflasi, stabilitas rupiah, hingga cadangan devisa. Dengan indikator yang terjaga, investor akan cenderung percaya," jelasnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
