Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 22 Juli 2022 | 01.20 WIB

Inflasi Tetap Terjaga, BI Tahan BI Rate di Level 3,5 Persen

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo Dery Ridwansah/ JawaPos.com - Image

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo Dery Ridwansah/ JawaPos.com

JawaPos.com - Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20-21 Juli 2022 memutuskan untuk kembali mempertahankan suku bunga acuan alias BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di level 3,5 persen karena inflasi inti masih terjaga.

Selain itu, bank sentral turut mempertahankan suku bunga deposit facility sebesar 2,75 persen dan suku bunga lending facility di level 4,25 persen.

"Keputusan ini konsisten dengan perkiraan inflasi inti yang masih terjaga di tengah risiko dampak perlambatan ekonomi global terhadap pertumbuhan ekonomi dalam negeri," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil RDG bulan Juli 2022 dengan cakupan triwulanan yang dipantau secara daring di Jakarta, Kamis.

Kendati begitu, BI terus mewaspadai risiko kenaikan ekspektasi inflasi dan inflasi inti ke depan, serta memperkuat respons bauran kebijakan moneter yang diperlukan, baik melalui stabilisasi nilai tukar rupiah, penguatan operasi moneter, dan suku bunga.

Perry menuturkan inflasi inti pada bulan Juni 2022 tercatat masih berada pada level yang rendah, yakni 2,63 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Inflasi inti adalah inflasi yang mencerminkan antara keseimbangan permintaan dan penawaran di dalam ekonomi nasional.

Dengan demikian, kata dia, inflasi inti yang sebesar 2,63 persen (yoy) menunjukkan meskipun permintaan di dalam negeri meningkat tetapi masih terpenuhi dengan kapasitas produksi nasional. "Di sinilah mengapa tekanan-tekanan inflasi dari fundamental yang tercermin pada inflasi inti masih terkelola," ungkapnya.

Sementara itu, ekonom dan Co-Founder & Dewan Pakar Institute of Social, Economics and Digital (ISED), Ryan Kiryanto menilai keputusan BI mempertahankan BI7DRRR tetap 3,5% dengan Lending dan Deposit Facility yang juga tetap dipertahankan, sebagai langkah yang tepat.

"Dengan mengacu kepada tujuan menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi sesuai jangkar BI, ditambah untuk menjaga momentum pertumbuhan, maka keputusan tadi tepat. Stance kebijakan moneter BI masih dovish atau pro-growth," ucap Ryan dalam keterangan yang diterima JawaPos.com.

Ryan mengakui lonjakan inflasi dunia sedang membayangi perekonomian Indonesia menyusul tekanan eksternal yang kuat karena dampak perang di Ukraina, disrupsi rantai pasokan global serta ancaman staglasi global.

Namun, katanya, dengan volatilitas Rupiah yang datar, inflasi inti yang masih dalam jangkar BI, serta cadangan devisa yang kuat serta surplus neraca dagang secara konsisten didukung harga komoditas ekspor yang tinggi, menjadi pertimbangan BI untuk tidak mengubah orientasi atau stance kebijakan moneternya.

Keputusan RDG BI tersebut, nilai Ryan, sudah sesuai ekspektasi mayoritas ekonom sehingga tidak terlalu mengejutkan. "Pernyataan BI yang akan selalu memantau perkembangan pasar dan perekonomian global dan domestik memberikan garansi bahwa bank sentral selalu ada di pasar akan meningkatkan kepercayaan," pungkas Ryan.

 

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore