
Menteri Keuangan Sri Mulyani saat konferensi pers terkait penyelundupan motor Harlery-Davidson dan sepeda Brompton menggunakan pesawat baru milik Garuda Indonesia di Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (5/12/2019).(Dery Ridwansah/JawaPos.com)
JawaPos.com - Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan sebanyak 30 persen masyarakat Indonesia harus merogoh kocek tambahan untuk menyogok dalam menggunakan pelayanan publik. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, hal itu berdasarkan survei transparansi internasional yakni Global Corruption Barometer.
Namun, menurutnya meski angka tersebut masih lebih baik dari India yang sebesar 39 persen atau Kamboja 37 persen, hal tersebut bukanlah sesuatu yang pantas untuk dibanggakan.
“Kita tidak boleh sama sekali merasa senang," ujarnya dalam diskusi virtual, Kamis (10/12).
Baca juga: Sri Mulyani: Sedikit yang Utang di Bank, Dunia Usaha Sedang Pingsan
Sri Mulyani memaparkan, hal itu tidak hanya terjadi di pelayanan pemerintah daerah, tetapi juga di pemerintah pusat. Dia membeberkan banyak menerima keluhan masyarakat di media sosial terkait pelayanan publik di level pemerintah daerah (Pemda).
"Dalam feedback di media sosial, banyak yang tidak bisa bedakan ini pelayanan daerah atau pusat. Buat mereka pemerintah itu satu. Dan kita lihat dinas daerah dapatkan feedback masih tidak baik pelayanan kepada masyarakat,” ungkapnya.
Sri Mulyani pun bertanya-tanya terkait para pegawai pemerintahan baik di pusat maupun daerah yang mendapatkan kenaikan tunjangan kinerja. Sebab, kenaikan tunjangan kinerja tidak sebanding dengan kenyamanan masyarakat terhadap pelayanan.
"Kita tahu persis pemerintah daerah, kementerian atau lembaga semuanya sudah meningkatkan tunjangan kinerja. Kita juga tahu persis bahwa selama beberapa tahun terakhir digiatkan wilayah birokrasi bersih dan melayani, bebas korupsi. Namun, kalau 30 persen masyarakat kita mengakui masih harus bayar sogokan untuk pelayanan, itu adalah suatu indikator yang perlu dilihat lagi,” ucapnya.
Sri Mulyani berharap, jajaran Kemenkeu tidak hanya bicara anti korupsi di lingkungannya tetapi juga bertanggung jawab untuk perbaiki policy regulasi. “Dana transfer ke daerah yang sangat besar untuk Pemda melayani masyarakat tanpa sogokan, itu harus terus ditingkatkan efektivitasnya," tutupnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=QplkA6GSHmo

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
