
DAYA BELI BELUM PULIH: Transaksi di ITC Cempaka Mas, Jakarta, kemarin (5/11). BPS merilis pertumbuhan ekonomi kuartal III kembali negatif. (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)
JawaPos.com - Ekonomi Indonesia resmi masuk ke jurang resesi setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan, pertumbuhan nasional RI pada kuartal III 2020 minus hingga 3,49 persen secara tahunan. Meski secara kumulatif terkontraksi 2,03 persen, namun ekonomi masih tumbuh positif 5,05 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan, ditengah ekonomi nasional yang belum beranjak dari teritori negatif, namun terdapat 7 sektor yang tumbuh positif dari 17 industri yang berkontribusi besar terhadap ekonomi Indonesia, atau menyumbang 64,13 persen Produk Domestik Bruto (PDB).
“Dari 17 lapangan usaha yang ada, 7 sektor tumbuh positif," ujarnya dalam konferensi pers, Kamis (5/11).
Menurutnya, ketujuh sektor usaha tersebut masih mampu bertahan dan bangkit dari dampak pandemi Covid-19, akibat pembatasan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Suhariyanto memaparkan, industri yang tumbuh signifikan adalah jasa kesehatan, mencapai 15,33 persen. Sektor tersebut tumbuh melesat catatan pada kuartal II yang tumbuhnya hanya mencapai 3,71 persen secara tahunan.
Baca juga: Indonesia Resesi, Pertumbuhan Ekonomi Minus 3,49 Persen
Selanjutnya, sektor usaha yang berasal dari industri informasi dan komunikasi yang tumbuh 10,61 persen. Namun, industri tersebut sedikit melambat dari catatan kuartal sebelumnya sebesar 10,83 persen.
Kemudian, industri pengadaan air tumbuh 6,04 persen dari 4,56 persen kuartal sebelumnya. Lalu, jasa pendidikan tumbuh 2,44 persen dari 1,22 persen, real estate tumbuh 1,98 persen dari sebelumnya 2,30 persen.
Selain itu, ada sektor usaha dari administrasi pemerintahan yang sebesar 1,86 persen. Angka tersebut membaik dari catatan kuartal II yang minus 3,21 persen. Lalu, pertanian, tumbuh 2,15 persen dari sebelumnya 2,19 persen.
Sementara sisanya, yaitu sektor transportasi dan pergudangan terkontraksi hingga minus 16,7 persen, akomodasi minus 11,86 persen, jasa lainnya minus 5,55 persen, dan jasa perusahaan minus 7,61 persen. Menurutnya, sektor-sektor tersebut tak terlepas imbas wabah Covid-19 yang masih berlangsung sehingga membuat orang enggan untuk berpergian jauh.
Sedangkan industri pengolahan minus 4,31 persen, perdagangan minus 5,03 persen, konstruksi minus 4,52 persen, pertambangan minus 4,28 persen, pengadaan listrik dan gas minus 2,44 persen, dan jasa keuangan minus 0,95 persen.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=Mhe0qbAL8YM

Prediksi Skor Tanjung Verde vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: Misi Blue Sharks Pulangkan Green Falcons
Prediksi Skor Mesir vs Iran di Piala Dunia 2026: The Pharaohs Selangkah Lagi ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Selandia Baru vs Belgia di Piala Dunia 2026: Pembuktian Romelu Lukaku Belum Habis!
Prediksi Skor Uruguay vs Spanyol di Piala Dunia 2026: La Roja Tak Ingin Tersandung, La Celeste Wajib Menang
Prediksi Skor Aljazair vs Austria di Piala Dunia 2026: Tiket 32 Besar Dipertaruhkan, Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Kroasia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Duel Penentu Tiket 32 Besar, Hasil Imbang Skenario Paling Masuk Akal
Prediksi Skor RD Kongo vs Uzbekistan di Piala Dunia 2026: Duel Sengit di Laga Terakhir Fase Grup
Prediksi Skor Senegal vs Irak di Piala Dunia 2026: Sadio Mane Jadi Kunci Kalahkan Singa Mesopotamia
Prediksi Afrika Selatan vs Kanada di 32 Besar Piala Dunia 2026: Bafana Bafana Ukir Sejarah!
Prediksi Skor Panama vs Inggris: Three Lions Sedang Tak Ideal, Harry Kane Ingin Kembali ke Jalur Gol
