
Tertekan: Petani memetik daun tembakau di Madiun. (R. BAGUS RAHADI/JAWA POS RADAR MADIUN)
JawaPos.com - Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) mendesak pemerintah agar mengalihkan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBH CHT) yang diperoleh dari perpajakan perkebunan tembakau dan industri rokok di setiap daerah dikembalikan ke pemerintah daerah (pemda). Harapannya, DBH CHT dapat digunakan petani untuk meningkatkan kualitas produksi tembakau.
"Selama ini pemanfaatan DBH CHT salah kaprah. Baik oleh pemda maupun pemerintah pusat. Masyarakat petani tembakau tidak menikmati DBH CHT, malah dinikmati kelompok masyarakat lain," ujar Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Nusa Tenggara Barat (NTB) Sahmihudin, Jumat (29/5) dalam keterangan persnya,
Pihaknya meminta pemerintah berlaku adil. Kalau industri lainnya diperhatikan, maka industri hasil tembakau termasuk perkebunan tembakau juga harus mendapat perhatian pemerintah.
"Kami jangan hanya dimanfaatkan saja lewat cukai maupun pajak. Pemerintah pusat dan pemda harus melindungi petani tembakau dan hasil panen tembakaunya,” paparnya.
Menurut dia, kesejahteraan petani tembakau saat ini semakin menurun. Apalagi, saat ada wabah Covid-19 dan resesi ekonomi nasional. Sejak adanya kenaikan cukai sebesar 23 persen, dan harga jual eceran (HJE) sebesar 35 persen, penjualan rokok terus menurun. Itu berujung pada menurunnya pembelian tembakau dari petani.
“Ini berakibat pada menurunnya tingkat kesejahteraan petani tembakau,” paparnya.
Saat ini, kata Sahmihudin, ada ratusan ribu tenaga kerja yang terlibat di perkebunan tembakau. Ditambah ratusan ribu hingga jutaan tenaga kerja yang terlibat di sektor industri rokok dan industri pendukungnya.
"Industri rokok telah menggerakkan ekonomi masyarakat. Ditambah pemasukan dari sektor cukai dan pajak yang sangat tinggi bagi negara," sebutnya.
Sahmihudin melanjutkan, industri hasil tembakau selain padat karya atau menyerap tenaga kerja banyak, juga menyerap modal yang tinggi. Biaya yang diperlukan untuk membayar buruh tani tembakau dan pengolahannya hingga siap diambil pabrik mencapai Rp 800 miliar sampai Rp 1, 2 triliun.
"Itu jumlah yang tidak sedikit untuk menghidupi petani. Karena dari 110.000 ton hasil tembakau, yang terserap dengan harga baik hanya sekitar 50.000 ton," ungkapnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=FOwU8-udFrQ
https://www.youtube.com/watch?v=xyV3_IG281A
https://www.youtube.com/watch?v=pzpzPzYoLGU

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
