
POTENSI BESAR: Karyawati pabrik alas kaki di Sidoarjo memproduksi sepatu. Industri alas kaki merupakan sektor manufaktur andalan untuk menopang ekspor (Frizal/Jawa Pos)
JawaPos.com - Potensi produk alas kaki (sepatu) masih tetap menjanjikan baik di pasar lokal maupun ekspor. Sepanjang tahun lalu, ekspor sepatu tumbuh 2,8 persen. Tahun ini, target ekspor meningkat. Yakni, tembus USD 5,36 miliar (sekitar Rp 73,6 triliun) atau naik 5 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Kepala Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) Heru Budi Susanto mengakui, industri padat karya seperti sepatu sarat hambatan. Meski begitu, potensinya untuk terus berkembang juga tinggi. Tahun lalu, produksi sepatu Indonesia tetap tumbuh meski tipis, yaitu 5,3 persen. ”Tingkat konsumsi alas kaki tahun lalu mencapai 3,8 pasang per kapita. Ini membuktikan bahwa kebutuhan sepatu masih besar,” ujarnya seperti dikutip Jawa Pos, Selasa (4/2).
Heru melanjutkan, potensi ekspor sepatu Jatim masih tinggi. Jatim merupakan salah satu penopang industri alas kaki nasional bersama Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Banten. ”Selama industri Jatim bisa mempertahankan kondusivitas investasi di daerahnya, akan tetap banyak perusahaan yang berminat memproduksi di sini,’’ paparnya.
Selama ini, pasar utama produk alas kaki Indonesia adalah Amerika. Enam pasar terbesar lainnya adalah Tiongkok, Belgia, Jerman, Jepang, Kanada, dan Italia. Menurut Heru, peluang ekspor sepatu ke Eropa harus terus digarap. ”Kalau perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) beres, potensi masuk Eropa bisa lebih besar,” tegasnya.
Jika bisa menembus pasar Uni Eropa (UE), produk tanah air tentu dapat merambah negara-negara lain di Eropa. Heru tak menampik bahwa bahan baku masih jadi kendala industri alas kaki. Produsen dalam negeri kekurangan bahan baku dan bahan baku pendukung seperti kulit, aksesori, dan outsole. Karena itu, mau tidak mau harus impor.
”Pasar domestik hanya mampu memenuhi 40 persen kebutuhan bahan baku kulit. Sisanya ya beli dari luar negeri,” ungkap Heru. Selain itu, bea masuk ke negara-negara ekspor dengan pasar sepatu yang cukup besar masih tinggi.
Karena itu, BPIPI menyiapkan program pelatihan untuk SDM industri. Mulai skala kecil, menengah, hingga besar. Program yang diberikan beragam. Menyesuaikan kebutuhan industri dan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). BPIPI juga memfasilitasi laboratorium uji produk sebagai upaya menyiapkan produk yang berkualitas dan sesuai dengan standar luar negeri.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
