Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 19 Februari 2022 | 19.48 WIB

Curhat Pengusaha Warteg Soal Kabar Pengrajin Tahu-Tempe Mogok Produksi

Petugas saat mengevakuasi bus TransJakarta yang mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Raden Inten Jakarta Timur, Jumat (11/2/2022). Bodi depan bus tersebut tampak ringsek karena menghantam separator busway dan keluar badan jalan. Foto: Dery Ridwansah/ Jaw - Image

Petugas saat mengevakuasi bus TransJakarta yang mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Raden Inten Jakarta Timur, Jumat (11/2/2022). Bodi depan bus tersebut tampak ringsek karena menghantam separator busway dan keluar badan jalan. Foto: Dery Ridwansah/ Jaw

JawaPos.com - Para pengusaha warteg mulai cemas saat dikabarkan bahwa para pengrajin tahu dan tempe akan mogok berproduksi. Aksi mogok tersebut merupakan respons dari tingginya harga kedelai di pasar. Padahal, tahu dan tempe merupakan bahan makanan yang wajib tersedia dalam menu warteg.

“Kami dikasih tahu minggu depan, mulai Senin sampai Rabu mogok produksi. Artinya dari Senin, Selasa, Rabu, nggak ada (tahu dan tempe),” kata Ketua Koordinator Warteg Nusantara (Kowantara) Mukroni saat dihubungi oleh JawaPos.com, Sabtu (19/2).

Mukroni mengaku, meski hingga saat ini harga tahu dan tempe belum ada kenaikan namun perlu diwaspadai juga oleh para pedagang kecil seperti warteg dan pedagang gorengan. Mukroni menyebut, jika nanti harga tahu dan tempe menjadi mahal, maka para pedagang mungkin akan menyiasatinya dengan memperkecil ukuran. Sebab, tidak mungkin warteg menaikkan harga jual ke pelanggan.

“Kasihan pedagang dari kondisi mengencangkan ikat pinggang. Kita mau menaikkan juga nggak bisa jadi siasati mengecilkan dan menipiskan ukuran seukuran ATM,” tuturnya.

Menurutnya, makanan lauk-pauk yang disediakan di warteg umumnya menyesuaikan daya beli pelanggan. Sehingga menu bahan baku tahu dan tempe yang ada pada sayuran maupun gorengan wajib ada. Sebab saat ini untuk menyediakan menu daging peminatnya kurang.

“Kan kita nggak jual daging seperti rendang karena pandemi daya beli kurang. Paling makanan yang bisa dibeli sekitar Rp 10.000-an. Karena pelanggan uangnya nggak ada,” ucapnya.

Jika para pedagang warteg membeli banyak persediaan tahu dan tempe sebelum pengrajin berhenti produksi juga tidak akan efektif. Sebab, jika terlalu lama disimpan rasanya menjadi tidak enak. Sementara tahu dan tempe harus cepat dimasak dalam keadaan segar.

"(Tahu dan tempe) kalau terlalu lama disimpan jadi tidak enak. Misal beli di Minggu lalu dimasak Rabu, rasanya kurang enak. Tahu dan tempe harus cepat disajikan. Jadi beli hari ini ya dimasak hari ini juga," ucapnya.

Mukroni menambahkan, saat ini para pedagang warteg masih tertatih-tatih. Meski ada pelonggaran kebijakan terkait jam operasional, namun harga bahan baku makanan naik. Seperti soal minyak goreng dengan harga terjangkau yang ditetapkan pemerintah masih langka.

“Kita omzet masih tertatih-tatih. Harga minyak juga lagi begini. Bahan baku sesuai harga pemerintah susah. Katanya penjual minyak (yang sudah telanjur beli dengan harga tinggi), rugi jualnya,” pungkasnya.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore