Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 18 September 2018 | 18.52 WIB

Beberapa Event Internasional Akan Jadi Jualan Pemerintah Gaet Investor

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong - Image

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong

JawaPos.com - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) telah mencabangkan target investasi sebesar Rp 765 triliun sepanjang 2018. Sejumlah persoalan baik di global maupun di dalam negeri menjadi kendala besar untuk mencapai target itu.


Data BKPM mencatat realisasi investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) pada kuartal II (April-Juni) 2018 mencapai angka sebesar Rp 176,3 triliun. Angka ini turun 4,9 persen dibandingkan kuartal I 2018 yang sebesar Rp 185,3 triliun.


Meski sulit, Kepala BKPM Thomas Lembong menilai masih ada secercah harapan untuk mengejar target tersebut. Pelaksanaan Internasional Monetary Fund (IMF) World Bank di Nusa Dua, Bali, menjadi salah satu ajang untuk 'menjual' Indonesia kepada para investor. Muaranya tentu menarik minat mereka untuk mau berinvestasi ke Indonesia.


Dengan masuknya investasi ke dalam negeri, perekonomian Indonesia juga akan ikut tumbuh. Hal itu tentu akan menjadi catatan positif di tengah gejolak perekonomian global.


Apalagi, Indonesia juga terus berjuang dalam memperbaiki defisit neraca perdagangan dengan cara meningkatkan ekspor dari dalam negeri.


"Di Oktober-November kan intensif sekali dengan agenda internasional. Ada IMF WB di Bali, itu peluang emas bagi kita untuk meningkatkan persepsi atau citra Indonesia di mata investor," ujarnya di Kemenko Kemaritiman, Jakarta, Selasa (18/9).


Setelah pertemuan IMF-WB, Indonesia masih punya kesempatan untuk kembali meyakinkan investor pada ajang Konferensi Tingkat Tinggi, G20 maupun Asian Summits. Melalui kesempatan yang ada, Lembong berharap peluang itu bisa dimaksimalkan.


"Ini soal bicara strategi dan taktik komunikasi untuk mencoba mengangkat sentimen pasar terhadap rupiah, terhadap pasar modal," tuturnya.


"Jadi mungkin juga strategi komunikasi dengan para funds manager, pengelola uang dana raksasa dari Amrrika, Eropa, Asia, itu aja," tambahnya.


Sekedar informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total defisit neraca perdagangan mencapai USD1,02 miliar, dan defisit perdagangan migas menjadi faktor utama dengan nilai USD 1,66 miliar.


Capaian itu terjadi lantaran impor migas Agustus 2018 meningkat 51,43 persen YoY ke angka USD 3,05 miliar, sedangkan ekspor migas hanya tumbuh 12,24 persen YoY ke angka USD 1,38 miliar di periode yang sama.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore