Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 18 Mei 2022 | 00.23 WIB

India Larang Ekspor Gandum, Dampaknya Belum Terasa bagi Indonesia

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Larangan ekspor gandum oleh India belum berdampak secara langsung kepada industri dalam negeri. Namun, gejolak harga dan kekurangan pasokan yang berpotensi ditimbulkan dari kebijakan tersebut dinilai tetap perlu diantisipasi.

Pengusaha roti dan kue Innico Sjahandi menyatakan, efek keputusan pemerintah India belum terasa. Namun, dampak dari menutup keran ekspor gandum terlihat ke depan.

"Yang jelas, pengaruh terbesar ya untuk restoran atau kafe yang menyediakan produk berbasis tepung. Misalnya, mi atau roti," ujarnya.

Untuk produsen roti murni, lanjut dia, tepung terigu biasanya menyerap 80–85 persen dari total komponen produksi. Namun, bagi pengusaha pastri dan bakery seperti dia, tepung terigu hanya berkontribusi 30–35 persen. Produk cake lebih membutuhkan krim dan mentega.

Innico menjelaskan, harga tepung terigu sebenarnya sudah naik 30 persen jika dibandingkan dengan awal tahun setelah terjadi perang antara Ukraina dan Rusia. Dua negara itu menyumbang impor gandum ke Indonesia yang jauh lebih besar daripada India.

"Tapi, hal itu tak serta-merta membuat harga makanan di kafe dan restoran langsung naik tinggi. Sebab, secara nilai, tepung salah satu komponen dengan nilai yang kecil," paparnya.

Meski demikian, lanjut Innico, tekanan harga karena berkurangnya pasokan gandum juga belum terasa dalam jangka pendek. Sebab, pemerintah India masih mengizinkan mengirimkan produk pertanian itu ke luar negeri untuk kontrak lama. Hanya kontrak baru yang menjadi permasalahan.

Ketua Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Jatim Tjahjono Haryono menuturkan, pengaruh gandum terhadap industri kuliner sebenarnya masih cukup kecil jika dirata-rata. Secara total, tepung terigu menyerap maksimal 10 persen dari total komponen. Karena itu, dia merasa dampak yang ditimbulkan tidak terlalu besar.

Lagi pula, masih cukup banyak negara produsen gandum. Termasuk negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat. "Daripada gandum, kami lebih khawatir isu PMK. Sebab, secara nilai, kontribusi daging jauh lebih besar,’’ ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid menjelaskan, konflik geopolitik Rusia dan Ukraina mengakibatkan krisis global di tengah pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19. Selain itu, terjadi krisis pangan global.

Menurut dia, itulah ancaman yang lebih berat bagi dunia saat ini. Kelangkaan beberapa komoditas bahan pangan seperti kedelai dan gandum, berkurangnya pasokan dan produksi bahan pangan di beberapa negara akibat kemarau panjang, ditambah lagi kelangkaan pasokan minyak akibat perang mengakibatkan inflasi global yang ditandai dengan kenaikan harga barang dan jasa secara umum.

’’Kadin Indonesia akan terus berkoordinasi dengan pemerintah dalam upaya pencegahan dan meminimalkan krisis pangan sehingga tidak berdampak menjadi krisis sosial yang kemudian bisa menjadi krisis politik dalam negeri,” paparnya.

NILAI IMPOR GANDUM DAN MESLIN INDONESIA

Periode | Nilai (USD Miliar)

2018 | 2,56

2019 | 2,79

2020 | 2,62

2021 | 3,45

Sumber: BPS

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore