Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 14 Juni 2022 | 01.17 WIB

UKM Jogja Mejeng di Jakarta Fair 2022, Omsetnya Tembus Puluhan Juta

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Jakarta Fair Kemayoran 2022 kembali digelar setelah vakum 2 tahun akibat pandemi Covid-19. Hal ini pun menjadi ajang tumbuhnya perekonomian masyarakat, khususnya untuk pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) yang ikut pameran tersebut.

Salah satu UKM yang mengikuti gelaran ini adalah Koperasi DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta). Koordinator Koperasi DIY, Yuni Nurastuti mengatakan, pihaknya bersyukur adanya pameran tahunan yang diadakan sejak 54 tahun silam ini atau tahun 1968.

"Alhamdulillah hari pertama pembukaan sudah bagus sekali, sudah normal seperti tahun-tahun kemarin, untuk antusias pengunjung juga banyak sekali, karena sudah 2 tahun tidak ada PRJ (Pekan Raya Jakarta)," ungkap dia kepada JawaPos.com di Hall B2 JiExpo Kemayoran, Jakarta Busat, Minggu (12/6).

Antusiasme warga DKI Jakarta dan sekitarnya ini dirasa dapat menjadi titik balik tumbuhnya ekonomi dalam negeri. Pasalnya selama pandemi ini, produk kerajinan tangan yang dihasilkan ini geraknya terbatas.

"Alhamdulillah penjualan sudah bagus, sudah normal kembali, bisa mengangkat UKM yang selama 2 tahun ini kita puasa. Jadi tabungan apapun, stok barang itu cuma untuk makan. Di PRJ ini bisa ada pengganti (pemasukan dari) tahun-tahun kemarin," ungkapnya.

Ia menyampaikan bahwa Koperasi DIY ini sudah menjadi langganan di Jakarta Fair, yakni sejak 2004. Produk kriya yang dihasilkan mulai dari bunga kering sampai dengan tas kulit.

"UKM DIY ini ada bunga kering dari kulit jagung, lalu ada wayang kulit, blangkon, kaos dan ada perak, ada salak. Kita membawa produk UKM dari kota DIY. Semua kerajinan tangan, handmade, tidak ada pakai mesin, semua ini handmade. Ada gudeg kaleng juga," tutur dia.

Adapun, harga yang ditawarkan beragam, mulai dari rentang harga Rp 15.000 hingga Rp 1 juta. Untuk bunga kering sekitar Rp 15.000-Rp 50.000, pot bunga Rp 150.000-Rp 200.000, dompet dari harga Rp 150.000 dan tas dari harga Rp 500 000 hingga Rp 700.000.

"Kap lampu ada Rp 600.000. Gudeg kaleng itu Rp 30.000-Rp 50.000 isi ada ayam, telur, hati. Mainan anak-anak dari kayu ada juga. Baju lurik khas Jogja itu Rp 250.000, yang paling mahal tas kulit dan perak juga itu sampai Rp 1 juta," imbuh wanita yang akrab dipanggil Yuni itu.

Adapun, produk yang diburu oleh pengunjung adalah bunga sampai dengan salak.

"Paling laris itu harga dibawah Rp 100 ribu, misalnya bunga beli 5 atau 10 seiket, itu cuma berapa kan. Lalu harga yang Rp 100 sampai Rp 200 ribu laris juga. Salak Rp 35.000 juga laris, perak yang bros itu harga Rp 25.000 juga laris. Mulai laris dari jam setengah 4 sampai malam. Jam 8 beli langsung. Sekarang kan masih jalan," terangnya.

Dari penjualan kerajinan tangan di pameran yang berlangsung hingga 17 Juli ini, diproyeksikan akan meraup omset hingga ratusan juta.

"Omset itu Rp 10 juta per hari. (ratusan) bismillah bisa Rp 400 juta-Rp 500 juta bisa," serunya.

Selain itu, dirinya pun mengharapkan agar para pelaku UKM mendapatkan perhatian lebih oleh pemerintah. Khususnya dalam pameran yang besar seperti Jakarta Fair ini.

"Pemerintah bisa lebih memperhatikan, tidak kecil kasih stand juga, ini kesempatan loh. Misal binaan dari pemerintah ditambah lagi, daerah kan terbatas. Kalo bisa penyelenggara bisa kasih diskon separuh harga," tandas Yuni.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore