
Pelanggan mengisi bahan bakar minyak (BBM) di salah satu pom bensin di kawasan Tebet, Jakarta, Sabtu (6/9/2020). Pertamina menegaskan bahwa pihaknya akan masih menjual bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium dan Pertalite di SPBU. Kendati demikian, rencana
JawaPos.com - Pengamat Ekonomi dan Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi berkomentar terkait dengan harga minyak mentah yang telah menembus angka USD 110 per barel. Yakni untuk menaikkan harga BBM jenis Pertamax, penghapusan Premium, dan tidak dinaikkannya harga Pertalite.
Ia mengatakan bahwa yang dimaksud itu adalah masukan alternatif atas respons kenaikan minyak dunia. Pasalnya, jika pemerintah tetap menahan pada harga yang sama, beban negara akan semakin bertambah.
"Beban APBN (anggaran pendapatan dan belanja negara) itu akan membengkak kalau pemerintah tidak menaikkan harga BBM sama sekali. Kalau seperti itu, maka pemerintah harus membayar dalam bentuk dana kompensasi pada Pertamina yang itu diambil dari APBN," terang dia ketika dihubungi JawaPos.com, Jumat (4/3).
Berdasar itu, untuk mengurangi beban tadi, harus dinaikkan harga BBM secara selektif. Pasalnya, kenaikan harga BBM ini tentunya akan menaikkan inflasi dan akan memperburuk daya beli masyarakat.
Perihal komentarnya itu, Fahmy menjelaskan kenapa Pertamax harus dinaikkan adalah karena proporsi konsumen jenis tersebut hanya sekitar 5 persen. Jadi, itu tidak menyulut adanya inflasi.
"Tapi kalau Pertalite itu proporsinya 70 persen. Kalau Pertalite itu dinaikkan, itu tentu akan menaikkan inflasi dan harga-harga komoditas akan meningkat dan memperburuk daya beli rakyat," tuturnya.
Sementara masukan untuk penghapusan BBM jenis Premium, itu karena distribusinya sudah terbatas, yakni hanya di Jawa, Bali, dan Madura saja. Maka dari itu, kemungkinan adanya efek domino terhadap perekonomian sangat kecil.
"Kalau Premium dihapus, mereka akan migrasi ke Pertalite sehingga proporsi Pertalite akan meningkat, maka saya wanti-wanti betul, saat ini jangan naikkan Pertalite. Karena itu bukan BBM bersubsidi, dampak domino terhadap perekonomian itu akan terjadi," tandas Fahmy.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
