Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 4 Januari 2022 | 22.51 WIB

Jumlah Investor Naik Hampir 100 Persen

TREN POSITIF: Presiden Joko Widodo didampingi sejumlah menteri dan pejabat terkait membuka perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) 2022 di gedung BEI, Jakarta, kemarin (3/1). (MUCHLIS/SETPRES) - Image

TREN POSITIF: Presiden Joko Widodo didampingi sejumlah menteri dan pejabat terkait membuka perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) 2022 di gedung BEI, Jakarta, kemarin (3/1). (MUCHLIS/SETPRES)

Buka Perdagangan BEI, Jokowi Optimistis Ekonomi Makin Tumbuh


JawaPos.com – Presiden Joko Widodo optimistis ekonomi terus membaik meski berada di tengah pandemi Covid-19. Sejumlah indikator menunjukkan ekonomi yang mulai pulih serta akan tumbuh seperti kinerja pasar modal dan neraca dagang.

”Kita patut bersyukur, di bursa sekarang ini ada kenaikan IHSG di 2021 dengan return 10,1 persen,” kata Jokowi saat membuka perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) 2022 kemarin (3/1).

Nilai tersebut lebih baik jika dibandingkan dengan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara. Misalnya, Filipina, Malaysia, dan Singapura.

Selain kenaikan IHSG, ada kenaikan yang sangat tinggi dari jumlah investor yang masuk ke pasar modal. Jokowi mengapresiasi banyaknya generasi muda yang sadar akan investasi di bursa saham. ”Di 2017, 1,1 juta (investor). Hari ini mencapai 7,4 juta investor. Utamanya investor-investor ritel ini yang banyak dari anak-anak muda,” ujarnya. Presiden berharap perdagangan di bursa terus berkembang sehingga dapat memberikan dampak bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Jokowi mengakui bahwa 2022 merupakan tahun yang penuh tantangan, baik dalam upaya penanganan pandemi maupun pemulihan ekonomi nasional. Namun, dia optimistis tantangan tersebut dapat dilalui dengan baik. ”Masih akan banyak tantangan yang kita hadapi. Omicron, kenaikan inflasi, tapering off, kehilangan kontainer di mana-mana, atau negara-negara lain yang mengalami kelangkaan energi,” bebernya.

Mantan gubernur DKI Jakarta itu menyampaikan bahwa pemulihan ekonomi Indonesia cukup kuat. Hal itu dilihat dari kenaikan dalam berbagai indikator. ”Neraca dagang kita surplus 34,4 miliar dolar AS, dalam 19 bulan surplus terus. Belum pernah kita mengalami seperti ini,” katanya.

Selain itu, ekspor Indonesia naik 49,7 persen secara year-on-year. Kenaikan itu, kata presiden, salah satunya tidak terlepas dari upaya pemerintah dalam menghentikan ekspor bahan mentah atau raw material minerba nikel. Hal itu tercatat memicu kenaikan ekspor stainless steel hingga mencapai USD 21 miliar. ”Karena itu, kita akan lanjutkan dengan stop bauksit, stop tembaga, stop timah, dan yang lain-lain. Hilirisasi menjadi kunci dari kenaikan ekspor kita,” ujarnya.

Peringkat daya saing atau competitive index Indonesia juga mengalami peningkatan tiga peringkat. Indonesia menduduki peringkat ke-37 di sektor bisnis dan peringkat ke-53 di bisnis digital. Indikator konsumsi dan indikator produksi juga menguat. Indeks keyakinan konsumen pada November mencapai 118,5 persen. Meningkat dari Maret yang berada di angka 113,8 persen.

Selain itu, indeks belanja masyarakat atau spending index meningkat ke angka 120,5 persen. Selanjutnya, purchasing managers’ index (PMI) manufaktur Indonesia juga berada di level ekspansif dengan angka 53,9 persen. Konsumsi listrik tumbuh 14,5 persen untuk industri dan 5,7 persen untuk bisnis. ”Optimisme melihat angka-angka seperti ini harus kita tunjukkan,” tandas Jokowi.

Terkait dengan perdagangan pasar modal, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto berharap lebih banyak perusahaan teknologi yang melantai di bursa. Sebelumnya, BEI mencetak rekor baru raihan penawaran umum perdana saham terbesar di pasar modal melalui emiten e-commerce PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) dengan emisi Rp 21,9 triliun. ”Kami harapkan bursa ke depan lebih optimistis. Kedua, terkait dengan teknologi, tahun kemarin kita sudah bisa me-launch IPO Bukalapak, salah satu yang terbesar di Asia Rp 21,9 triliun. Ini perlu dilanjutkan,’’ katanya.

Airlangga optimistis bursa semakin cerah. Faktor lain yang dinilai dapat mendukung perdagangan saham pada 2022 adalah dukungan pemerintah yang masih berlanjut melalui pemulihan ekonomi nasional (PEN) 2022. Selanjutnya, Presidensi G20 yang akan diselenggarakan di Bali. Selain itu, berlakunya RCEP yang notabene merupakan perdagangan terbesar regional. ”Diharapkan ini memberikan dukungan kepada pasar modal,’’ jelasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyatakan, kinerja pasar modal sepanjang 2021 melebihi ekspektasi. IHSG menjadi salah satu indeks berkinerja terbaik di Asia. Tercatat, nilai penawaran umum di BEI mencapai Rp 363 triliun yang meliputi 194 penawaran umum seluruh instrumen.

Per 30 Desember 2021, IHSG berakhir di level 6.581,48. Menguat 10,08 persen secara year-to-date (YtD). Bahkan, sempat bergerak ke level tertinggi sepanjang sejarah (all-time high) ketika menyentuh level 6.723,39 pada 22 November 2021.

Dari sisi supply, OJK telah menerbitkan 53 surat efektif bagi perusahaan yang akan melakukan penawaran umum perdana saham alias initial public offering (IPO). Aksi korporasi tersebut mencatatkan pengumpulan dana Rp 61,66 triliun. Pertumbuhan IPO di Indonesia akan terus naik. Itu seiring keberadaan 43 calon perusahaan yang masih dalam proses penawaran umum (data per 31 Desember 2021).

Dari sisi demand, kata Wimboh, jumlah investor pasar modal meningkat signifikan. Hingga 30 Desember 2021, jumlah investor 7,49 juta atau naik 92,99 persen. Peningkatan tersebut didominasi investor domestik yang berumur di bawah 30 tahun. Yakni, mencapai 59,98 persen dari total investor.

Tahun ini OJK akan meninjau kembali kebijakan yang sebelumnya dikeluarkan. Khususnya kebijakan untuk menjaga daya tahan dan mengendalikan volatilitas pasar modal yang terdampak pandemi Covid-19.

Wimboh menjelaskan sejumlah inisiatif dan kebijakan strategis yang akan dikeluarkan regulator pada 2022. Di antaranya, mempersiapkan operasi dan infrastruktur bursa. Terutama legalitas pendukung penyelenggaraan bursa karbon untuk mendorong agar Indonesia menjadi pusat perdagangan karbon dunia.

Selain dari sisi instrumen investasi, OJK akan memperluas basis emiten. Baik melalui sekuritisasi aset maupun pembiayaan proyek strategis. Dengan demikian, mendukung kebutuhan pembiayaan infrastruktur 2020–2024 yang berkisar di angka Rp 6.445 triliun.

OJK juga akan terus mengakomodasi calon emiten perusahaan start-up berbasis teknologi untuk melakukan IPO di bursa domestik. Sebagaimana yang tertuang di POJK No 22 Tahun 2021 tentang Saham Multiple Voting Share (MVS) yang terbit pada Desember 2021.

Wimboh berkomitmen untuk memperluas dan mengakselerasi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk masuk ke pasar modal. Yakni, melalui platform securities crowdfunding. Juga mengoptimalisasi papan akselerasi UMKM yang bekerja sama dengan pemda untuk mendapatkan surat perintah kerja yang potensinya Rp 74 triliun.

Terpisah, Direktur Ekuator Swarna Investama Hans Kwee menilai, penguatan pasar modal didorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kembali positif. Terutama di kuartal II dan III 2021 yang tumbuh 7,07 persen dan 3,51 persen. Selain itu, kenaikan komoditas menjadi faktor utama lainnya yang mendorong penguatan IHSG dan masuknya dana asing ke pasar modal tanah air.

Di sisi lain, Indonesia sedang menikmati kebangkitan investor ritel. Potensi kenaikan investor ritel masih sangat terbuka lebar. Kenaikan itu tidak terlepas dari dampak pandemi Covid-19 dan besarnya generasi milenial. Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak Maret 2020 membawa banyak perubahan dalam tatanan ekonomi berbagai negara.
Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore