
Dirut PT Garuda Indonesia Tb Irfan Setiaputra
JawaPos.com - Momentum Lebaran biasanya diisi dengan silaturahmi bersama keluarga dan saudara. Hal ini juga dirasakan oleh Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra.
Ia pun menyampaikan tradisi yang biasanya dilakukan oleh keluarga pada saat Lebaran, yakni 'mengungsi'. Mengungsi yang dia maksud ini bukanlah berpindah tempat karena mendapatkan kejadian tidak terduga.
Mengungsi versi bos burung besi pelat merah itu artinya mencari lokasi yang efisien untuk mengunjungi sanak keluarga. Pasalnya, rumahnya yang berlokasi di Depok dirasa kurang memungkinkan apabila harus pergi-pulang dari Jakarta.
"Jadi, biasanya kita 'mengungsi' cari tempat di tengah yang lebih santai, istilahnya staycation. Bisa berkunjung ke mana-mana," jelasnya kepada JawaPos.com.
Selain bersilaturahmi bersama keluarga dan sanak famili, Irfan juga mengisi momen Lebarannya bersama para petinggi, baik dari BUMN maupun instansi lain. "Jadi, kegiatan rutin saya dan keluarga itu bersilaturahmi selama Lebaran dengan keluarga dan bos-bos BUMN, menteri juga," lanjutnya.
Jika biasanya masyarakat umum punya tradisi kuliner saat Hari Raya, maka demikian pula dengan Irfan. Dia menyebut, hidangan yang biasanya tersaji saat Lebaran sama saja dengan orang kebanyakan, seperti opor ayam, ketupat, juga rendang.
"Apa saja yang disediakan yang memang mayoritas di tempat keluarga, itu kan opor, ketupat, rendang. Jadi, dinikmati aja," tutur dia.
Namun sebagai figur publik, ada kegiatan yang tidak digelar Irfan seperti mayoritas lainnya, yakni openhouse. Kalaupun ada, maka itu bukan prioritas. Sebab menurutnya, Lebaran adalah momen yang selalu diisi dengan kegiatan bersama keluarga.
"Fokus aja ke keluarga aja, urusan pertemanan, atasan bawahan nonkeluarga saya minta keluarga masing-masing yang didahulukan dan juga untuk istirahat," ucapnya.
Absen Mudik
Terkait dengan mudik, dirinya tidak melakukan tradisi tahunan tersebut karena keluarga inti seluruhnya tinggal di Jakarta. Hanya, ia bercerita bahwa semasa kecil sering melaksanakan mudik ke Solo mengunjungi keluarga besar menggunakan jalur darat.
"Saya dulu mudik ke Solo, keluarga besar di Solo. Itu tempat kumpul kita kalo Lebaran, dan sebenarnya dari kecil itu adalah waktu yang ditunggu-tunggu untuk berkumpul. Dulu macet, tapi kita nggak peduli," terangnya.
Bagi Irfan, Lebaran memiliki makna berbagi kebahagiaan dan keceriaan. Dia pun berharap makna ini tidak sampai pupus di masyarakat.
Oleh karena itu, pihak Garuda juga memberikan program mudik berlawanan arah, seperti ke Jakarta dengan harga khusus. "Jadi, kita di Garuda juga sedang inisiatif, kita buat slogan Lebaran di Jakarta yuk dengan memberikan harga murah terhadap tiket yang berlawanan arah dengan orang Jakarta," imbuh ayah dua putra itu.
Kepada masyarakat yang mudik, Irfan berpesan jangan sampai kendor protokol kesehatan. Hal ini juga diterapkan oleh maskapainya.
"Saya sudah pastikan prokes di dalam pesawat tidak berubah. Kalau ada yang lepas masker itu kita peringatkan dan kalau ngeyel kita laporkan. Prokes itu kita ngotot bersama teman-teman di bandara. Safety tidak bisa ditawar, itu memang konsekuensi orang bepergian, perlu prokes dan bayar cukup mahal sehingga mereka bepergian," tandas dia.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
