Presiden RI Prabowo Subianto tiba di Amerika Serikat (AS) pada Selasa (17/2) sekitar pukul 11.55 waktu setempat. (Setpres)
JawaPos.com - Presiden Prabowo Subianto tengah melakukan kunjungan kerja ke Amerika Serikat dengan salah satu agenda utama penandatanganan kesepakatan tarif perdagangan. Kebijakan ini dinilai berpotensi tidak hanya menjaga stabilitas ekspor nasional, tetapi juga membuka kesempatan lebih luas bagi pelaku UMKM hingga sektor industri untuk menjangkau pasar global, khususnya di AS.
Executive Director Segara Institute, Piter Abdullah, menilai pemerintah menunjukkan keseriusan dalam mengupayakan perjanjian tarif yang memberikan manfaat optimal bagi Indonesia.
“Presiden dan pemerintah tampak berkomitmen serta berupaya mendapatkan perjanjian tarif yang paling menguntungkan bagi Indonesia,” ujar Piter dalam keterangannya, Rabu (19/2).
Ia menjelaskan bahwa sejumlah sektor unggulan perlu menjadi fokus utama dalam proses negosiasi dagang dengan AS. Komoditas seperti crude palm oil (CPO), tekstil, alas kaki, hingga karet selama ini menjadi kontributor penting ekspor Indonesia ke pasar Amerika dan memiliki keterkaitan langsung dengan rantai pasok UMKM di dalam negeri.
Piter juga berpandangan bahwa kesepakatan tarif berpotensi memperkuat kinerja neraca perdagangan Indonesia. Hal ini tercermin dari capaian surplus neraca dagang yang tetap terjaga meskipun terjadi dinamika perang tarif di tingkat global.
Sepanjang Januari hingga Desember 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD 41,05 miliar. Capaian tersebut menjadi surplus ke-68 secara berturut-turut sejak Mei 2020.
“Terbukti kita masih bisa mempertahankan surplus neraca perdagangan. Saya kira kesepakatan baru antara Indonesia dan Amerika akan lebih menguntungkan Indonesia,” katanya.
Sementara itu, ekonom dari Universitas Gadjah Mada, Eddy Junarsin, menambahkan bahwa komitmen perdagangan antara Indonesia dan AS juga memiliki dimensi strategis yang lebih luas, terutama dalam menjaga hubungan bilateral serta posisi Indonesia di tengah kompetisi global.
“Indonesia ingin tetap menjadi negara yang independen dan netral dalam konteks persaingan pengaruh global. Konstelasi ekonomi tidak bisa dipisahkan dari politik, sosial, teknologi, lingkungan, dan hukum internasional,” ujarnya.
Menurut Eddy, kesepakatan tarif ini setidaknya mampu menjaga stabilitas neraca perdagangan maupun transaksi berjalan dalam jangka pendek. Meski demikian, peningkatan daya saing produk nasional tetap menjadi keharusan agar Indonesia tidak hanya bergantung pada hasil negosiasi tarif semata.
Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menilai pemerintah berhasil menurunkan potensi tarif resiprokal dari 32 persen menjadi 19 persen, bahkan menjadi yang terendah di kawasan ASEAN. Namun, keberhasilan tersebut juga disertai sejumlah konsekuensi.
Untuk mencapai tingkat tarif tersebut, Indonesia perlu membuka pasar domestik lebih luas, termasuk menghapus sebagian tarif serta melonggarkan hambatan non-tarif. Artinya, akses ekspor tetap terjaga, tetapi ruang perlindungan terhadap industri dalam negeri menjadi lebih terbatas.
Dalam kondisi ini, Yusuf menekankan bahwa sektor manufaktur padat karya seperti tekstil dan pakaian jadi, alas kaki, hingga elektronik harus menjadi perhatian utama. Sektor-sektor tersebut diperkirakan menghadapi tekanan terbesar dengan potensi penurunan ekspor yang signifikan.
“Sektor padat karya bukan hanya soal ekspor, tetapi juga menyangkut jutaan tenaga kerja. Jika tekanan ini tidak diimbangi dengan dukungan kebijakan seperti insentif, pembiayaan, atau strategi diversifikasi pasar, maka risiko pelemahan industri domestik dan peningkatan pengangguran akan semakin nyata,” kata Yusuf.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
