Siswa MAN Sidoarjo antusias menyambut ompreng MBG. (Moch. Rizky Pratama Putra/JawaPos.com)
JawaPos.com – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan alasan utama pemerintah meluncurkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satu faktornya adalah masih banyak anak Indonesia yang berangkat ke sekolah tanpa sarapan, sehingga berisiko mengalami kekurangan gizi dan gangguan pertumbuhan.
Prabowo menjelaskan, sejak awal pemerintahannya, MBG dirancang sebagai langkah konkret menjawab persoalan gizi nasional. Berdasarkan berbagai kajian, rata-rata 1 dari 5 anak Indonesia mengalami kekurangan gizi atau sekitar 20 persen. Bahkan, di beberapa daerah angkanya bisa menembus lebih dari 30 persen.
"Kita mencanangkan di awal pemerintahan program makan bergizi gratis. Pertimbangannya sangat sederhana, dari semua kajian rata-rata satu dari lima anak Indonesia kekurangan gizi," kata Prabowo.
Ia menambahkan, kondisi tersebut berkaitan erat dengan kasus malnutrisi dan stunting. Banyak anak yang tumbuh dengan fisik lemah dan pertumbuhan yang tidak normal.
Bahkan, kata Prabowo, situasi semakin memprihatinkan karena tidak sedikit anak-anak yang pergi ke sekolah tanpa makan pagi. Selain itu, hanya serat yang dimakan anak-anak tanpa adanya protein.
"Kemudian ternyata puluhan juta anak-anak Indonesia berangkat sekolah tanpa makan pagi. Banyak juga makan mereka hanya nasi dengan daun-daunan," jelasnya.
Lebih lanjut, Prabowo menyampaikan setahun program berjalan, saat ini jumlah penerimanya sudah meluas mencapai 55 juta orang. Penerima manfaat tersebut tidak hanya anak-anak sekolah, tetapi juga ibu hamil yang membutuhkan asupan gizi memadai.
Prabowo juga menyebut, pemerintah mempelajari berbagai contoh dari negara lain sebelum akhirnya menetapkan MBG sebagai program prioritas nasional. Adapun program ini resmi dimulai pada 6 Januari 2025 dan terus diperluas cakupannya secara bertahap.
"Hari ini dilaporkan kepada saya sudah 55 juta penerima manfaat. Artinya, 55 juta anak-anak Indonesia menerima makan setiap hari dan termasuk ibu-ibu hamil," tutur Prabowo.
Ia menilai capaian tersebut patut dibanggakan. Prabowo membandingkan dengan Brasil yang membutuhkan waktu hingga 11 tahun untuk menjangkau 40 juta penerima manfaat program serupa. Sementara Indonesia, kata dia, mampu mencapai 55 juta penerima hanya dalam waktu satu tahun.
"Ini sesuatu yang membanggakan juga karena negara-negara yang kita ketahui, contoh Brasil. Presiden Brasil menyampaikan kepada saya mereka butuh 11 tahun untuk mencapai 40 juta penerima manfaat. Kita 1 tahun mencapai 55 juta penerima manfaat," tukasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
