
Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com — Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2025 cukup stabil, yakni mencapai 5,04% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year, yoy). Pada periode triwulanan tersebut, pertumbuhan ekspor bersih mencapai 57,75%, tertinggi dalam lima tahun terakhir untuk periode yang sama, yaitu kuartal tiga.
Untuk triwulan III-2025, seperti diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor barang dan jasa mencatat pertumbuhan tertinggi untuk Produk Domestik Bruto (PDB) dari sisi pengeluaran, yakni mencapai 9,91% (yoy).
Menurut Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, kinerja ekspor yang positif ini sekaligus menepis kekhawatiran publik terkait dengan kenaikan tarif ekspor ke Amerika Serikat.
“Selama ini, akibat adanya tarif resiprokal yang diberlakukan oleh Amerika, ada kekhawatiran akan menekan kinerja ekspor Indonesia,” ungkap Christiantoko di Jakarta, Rabu (5/11/2025).
Menurut data BPS, ekspor Nonmigas Indonesia ke Amerika pada September 2025 justru tumbuh positif, yaitu 9,09% (yoy). Bahkan untuk Januari-September 2025, tumbuhnya mencapai 19,05%.
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekspor pada triwulan III-2025 mencapai 9,91% (yoy) atau dibandingkan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya. Sedangkan impor hanya tumbuh 1,18%, sehingga terdapat selisih pertumbuhan sebesar 8,74%.
Tingginya pertumbuhan ekspor tersebut turut mendukung kinerja ekspor bersih, sehingga menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir atau sejak tahun 2020, yakni sekitar 57,75%. Pada kuartal III-2025, nilai ekspor bersih berdasarkan harga berlaku menurut data BPS, mencapai Rp210 triliun, sedangkan mengacu pada harga konstan sekitar Rp193 triliun.
Komponen PDB dari sisi pengeluaran lainnya, yakni konsumsi rumah tangga, tumbuh 4,89% (yoy), cenderung stabil dibandingkan kuartal II-2025 yang sebesar 4,97% (yoy). Kinerja konsumsi ini membuat perekonomian stabil, karena kontribusinya terhadap perekonomian nasional mencapai 53,14%. Sementara untuk investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), masih tumbuh sekitar 5,04%.
Dari sisi lapangan usaha, lonjakan terbesar terjadi pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang tumbuh 4,93% (yoy). Di kuartal sebelumnya, sektor tersebut hanya tumbuh 1,65%. Pada kuartal III-2025 ini, sektor pertanian menjadi kontributor terbesar kedua terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dengan kontribusi 14,35%.
Sektor usaha yang berkontribusi terbesar terhadap PDB masih milik industri pengolahan, yakni 19,15%. Sektor tersebut tumbuh 5,54% (yoy). “Perkembangan ini memperlihatkan adanya gairah di sektor pertanian, sehingga tumbuhnya secara tahunan cukup tinggi, jauh melampaui kuartal sebelumnya,” ujar Christiantoko.
Pertumbuhan tertinggi dari sisi lapangan usaha terjadi pada sektor jasa pendidikan yang mencapai 10,59% (yoy). Selanjutnya adalah jasa perusahaan yang mencapai 9,94%, kemudian telekomunikasi dan komunikasi, yakni 9,65%.
Kendati demikian, ada satu lapangan usaha yang mengalami kontraksi alias menyusut, yakni pertambangan dan penggalian. Kinerja sektor ini menyusut atau tumbuh minus 1,98%, seiring dengan melemahnya harga-harga komoditas di pasar internasional.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
