Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 16 Oktober 2025 | 01.27 WIB

Pendapatan Negara Merosot Imbas Turunnya Harga Batu Bara dan Sawit di Global

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kanan) bersama Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (kiri) sebelum memberikan paparan pada konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Selasa (14/10/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kanan) bersama Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (kiri) sebelum memberikan paparan pada konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Selasa (14/10/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Sampai dengan akhir triwulan III 2025, kinerja anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tetap terjaga. Defisit anggaran tercatat 1,56 persen dari produk domestik bruto (PDB). Lebih rendah dari target outlook tahun penuh sebesar 2,78 persen PDB.

"Pendapatan negara hingga akhir September 2025 tercatat sebesar Rp1.863,3 triliun, atau telah mencapai 65 persen dari outlook yang ditetapkan," ungkap Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam APBNKiTA di Gedung Juanda, Kementerian Keuangan, Selasa (14/10).

Meski demikian, realisasi pendapatan lebih rendah secara nominal dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Tekanan terutama berasal dari penurunan harga komoditas global yang memengaruhi penerimaan perpajakan. Khususnya dari sektor migas (minyak dan gas) serta tambang.

Penerimaan perpajakan sampai akhir September 2025 tercatat Rp 1.516,6 triliun. Menurun 2,9 persen secara year-on-year (YoY). "Penerimaan pajak penghasilan (PPh) badan dan pajak pertambahan nilai (PPN) domestik sedikit tertahan akibat turunnya harga komoditas seperti batu bara dan sawit. Namun, sektor manufaktur dan jasa masih memberikan kontribusi positif terhadap penerimaan," jelas Purbaya.

Dari sisi belanja negara, realisasi sampai September mencapai Rp 2.234,8 triliun. Atau 63,4 persen dari pagu outlook 2025. Belanja pemerintah pusat tumbuh tipis, sementara transfer ke daerah telah terealisasi sebesar Rp 648,4 triliun atau 74,6 persen dari pagu.

"Efektivitas belanja didorong oleh pelaksanaan program prioritas, bantuan sosial, dan belanja modal infrastruktur," jelas mantan ketua dewan komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu.

Dia menegaskan, posisi kesimbangan primer tetap positif dengan surplus sebesar Rp 18 triliun. Hal ini menjadi indikasi kuat bahwa konsolidasi fiskal terus berlanjut secara berkelanjutan. Sekaligus menunjukkan bahwa APBN tetap adaptif dan kredibel.

"Menjaga kesimbangan antara dukungan terhadap pemulihan ekonomi dan kesinambungan fiskal dalam jangka menengah," tandas Purbaya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore