
Pengunjung memilih beras premium di Hypermart Ciputra World Surabaya, Jawa Timur, Rabu (16/7/2025). (Riana Setiawan/ Jawa Pos)
JawaPos.com - Perum Bulog menyampaikan salah satu cara paling valid untuk mengidentifikasi kualitas beras premium yang ada di pasaran adalah dengan cara melakukan uji laboratorium. Pasalnya, jika dilihat secara visual kualitas beras sangat sulit untuk dibedakan.
General Manager Unit Bisnis Industri Perum Bulog, Andy Nugroho mengatakan, jika sudah dibawa ke lab, maka penilaian terhadap kualitas beras akan lebih detail. Misalnya saja seperti pH beras.
Hal ini disampaikan Andy di tengah penemuan Satgas Pangan Dittipideksus Bareskrim Polri yang menemukan pelanggaran terkait aturan mutu dan takaran alias oplosan.
Menurutnya, jika pH beras tercatat kurang dari 6, maka kualitas beras dipastikan sudah tidak fresh karena sudah tersimpan lama di gudang. "Kalau pH kurang dari 6 itu kan dia bisa dikatakan. Maksudnya itu ketika keasamannya lebih, oh ini udah lama nih beras lama, tersimpan lama, udah nggak fresh lagi," ungkapnya saat ditemui di Jakarta, Kamis (17/7).
Kendati begitu, dia juga menyampaikan bahwa akan ada sejumlah parameter lain yang akan tampak dari hasil lab. Dari hasil-hasil itulah, lanjut Andy, siapapun bisa memastikan kualitas beras bagus ataukah oplosan secara valid.
Lebih lanjut, Andy mengatakan untuk beras premium Bulog yang sudah dijual di ritel modern dalam kondisi yang baik. Pasalnya, beras-beras yang masuk di Bulog telah dikemas dengan mesin modern, uji kualitas, quality control. "Sehingga menjamin bahwa beras itu sehat dan aman untuk dikonsumsi," tegasnya.
Di sisi lain, Andy juga mengatakan hingga saat ini untuk beras premium Bulog masih berada dalam naungan B-Food. Adapun salah satu mereknya, yaitu Setra Ramos. "Umbrella brandnya B-Food. Nanti jenisnya banyak, ada B-Food, Setra Ramos, ada yang Slyp Super," pungkasnya.
Sebelumnya, Satgas Pangan Dittipideksus Bareskrim Polri menyampaikan temuan terkait pelanggaran oleh empat produsen beras nasional yang diduga melakukan pelanggaran terkait aturan mutu dan takaran alias oplosan.
Kasatgas Polri Brigjen Pol. Helfi Assegaf menyampaikan keempat produsen yang dilakukan pemeriksaan, antara lain, Wilmar Group atas produk Sovia dan Fortune.
"Pemeriksaan dilakukan setelah Satgas Pangan Polri memeriksa 10 sampel dari Aceh, Lampung, Sulawesi Selatan, Jogjakarta, dan Jabodetabek," kata Helfi dalam keterangan tertulis, dikutip Minggu (13/7).
Kemudian, PT Food Station Tjipinang Jaya dengan produk merk Alfamidi Setra Pulen, Beras Premium Setra Ramos, Beras Pulen Wangi, Food Station, Ramos Premium, Setra Pulen, dan Setra Ramos. Pemeriksaan dilakukan setelah sembilan sampel diambil dari Aceh, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
Lebih lanjut, yaitu PT Belitang Panen Raya dengan produk Raja Platinum dan Raja Ultima. Pemeriksaan dilakukan setelah tim penyidik mengambil tujuh sampel yang bersumber dari Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Aceh, dan Jabodetabek.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
