
Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (14/5/2025). IHSG ditutup menguat pada akhir perdagangan Rabu (14/5/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com-Serangan Amerika Serikat (AS) semakin meningkatkan eskalasi ketegangan antara Israel dan Iran. Kondisi itu menjadi sentimen utama yang membayangi pasar keuangan global saat ini.
Konflik yang berpotensi berlarut-larut akan memengaruhi berbagai aspek pasar, termasuk saham. Analis pasar modal Hans Kwee mengungkapkan, aksi jual di pasar saham terjadi menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang meminta Iran menyerah. Seruan itu kemudian ditanggapi dengan penolakan keras dari Ayatollah Ali Khamenei.
"Investor cenderung menghindari risiko dan lebih memilih aset safe haven, seperti emas dan obligasi pemerintah AS," kata Hans.
Menurut dia, keterlibatan langsung AS dalam konflik ini meningkatkan risiko ketidakpastian pasar global. Agresi itu memberi sinyal konflik bisa menjadi lebih besar dan berkepanjangan. Berimbas pada harga minyak yang sudah naik ke kisaran USD 75-85 per barel.
"Bisa melonjak lebih tinggi jika terjadi gangguan pasokan di Selat Hormuz, yang berpotensi mendorong harga minyak hingga USD 120-130 per barel," jelas Hans.
Dinamika kebijakan moneter juga ikut dipengaruhi oleh situasi ini. The Federal Reserve (The Fed) masih mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, dot plot menunjukkan adanya perpecahan di antara anggota. Sebagian besar memperkirakan tidak ada pemotongan suku bunga tahun ini.
"Peluang pemotongan yang tersisa sangat tergantung pada perkembangan inflasi yang dipengaruhi tarif baru dan ketegangan geopolitik," ujar dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Trisakti itu.
Di tengah ketidakpastian global tersebut, Hans memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan hingga akhir tahun.
"BI cenderung menjaga stabilitas makroekonomi dan nilai tukar, terutama menghadapi tekanan dari potensi arus modal keluar akibat eskalasi konflik," imbuh Hans Kwee.
Dari pasar saham domestik, indeks harga saham gabungan (IHSG) melemah 1,74 persen atau turun 120 poin ke level 6.787,14 pada perdagangan bursa, Senin (23/6). Sebanyak 553 saham melorot, 272 saham stagnan, dan 135 saham menghijau.
"IHSG berpotensi melemah dalam jangka pendek dengan level support di kisaran 6.907 sampai 6.832 dan resistance di 6.994 sampai 7.115," tandas Hans Kwee.
Pekan ini, pasar juga menantikan data inflasi AS yang diukur dengan personal consumption expenditures (PCE). Indikator kunci yang dipantau The Fed untuk menentukan arah kebijakan suku bunga selanjutnya.

Kronologi Beckham Putra Nyaris Bersitegang dengan Penonton usai Laga Indonesia vs Mozambik
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
8 Pertanyaan Pribadi yang Tidak Boleh Ditanyakan Pada Orang Lain, Tidak Peduli Seberapa Baik Mereka Mengenal Seseorang Menurut Psikolog
Harga BBM Pertamina Terbaru: Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Viral Investor MBG Ngamuk di Kantor BGN, APGI 3T Sebut Aksi Spontan Atas Potensi Kerugian Rp 1,8 Triliun
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Timnas Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Daftar Lengkap Skuad, Statistik, dan Jadwal Pertandingan
Resmi! 9 Pemain Persebaya Surabaya Hengkang, Era Baru Bernardo Tavares Dimulai dengan Cuci Gudang
