Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 20 April 2025 | 13.53 WIB

Perang Tarif Dunia, Pengamat Sebut Indonesia Harus Proaktif Ambil Langkah Strategis

Co Founder ISESS Khairul Fahmi, mantan jurnalis Andi Anggana, dan Mantan Koordinator Pusat Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia Muhammad Arsyi Haykal. (Istimewa) - Image

Co Founder ISESS Khairul Fahmi, mantan jurnalis Andi Anggana, dan Mantan Koordinator Pusat Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia Muhammad Arsyi Haykal. (Istimewa)

JawaPos.com–Co Founder Institute For Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi mengatakan, saat ini dunia mengalami guncangan besar yang bersifat struktural. Salah satu manifestasinya adalah perang tarif antara Amerika Serikat - Tiongkok.

”Tidak hanya melibatkan dua negara, namun melibatkan proksi-proksi dan berbagai instrumen lain, yang dapat menyebabkan terganggunya perdagangan global, tetapi juga berpotensi merombak arsitektur keamanan dan ekonomi internasional,” kata Khairul Fahmi dalam podcast bertema Mengurai Dampak Perang Tarif Dunia Terhadap Ekonomi Nasional, Sabtu (19/4).

Fahmi menjelaskan, Indonesia dipaksa untuk memilih pihak atau menjadi bagian dari kekuatan tertentu. Padahal Indonesia adalah negara yang memiliki prinsip bebas aktif sebagai politik luar negeri. Namun sikap netral tersebut tidak cukup, karena Indonesia diminta untuk bersikap proaktif dan mengambil langkah strategis.

”Kesalahan langkah bisa memberikan akibat fatal bagi posisi Indonesia. Hal ini bukan hal yang sepenuhnya mengejutkan, karena Presiden Prabowo Subianto telah memprediksi jauh sebelum menjabat sebagai Presiden, serta telah sering mengingatkan tentang kompleksitas tantangan global yang dihadapi Indonesia,” jelas Khairul Fahmi.

Dalam masa transisi pemerintahan, perbedaan kebijakan adalah hal yang wajar. Pelaku pasar membutuhkan waktu untuk membaca arah kebijakan baru dan itu bisa menimbulkan gejolak. Sejauh ini, menurut dia, kebijakan pemerintah masih berada di jalur yang tepat.

”Tantangannya bukan hanya soal substansi kebijakan tapi bagaimana kebijakan itu disosialisasikan dan dikomunikasikan ke publik sehingga bisa mengurangi kecemasan publik, terutama pelaku pasar,” ungkap Khairul Fahmi.

Menurut Fahmi, pemerintah sudah menunjukkan langkah-langkah konkret. Seperti mengirim tim negosisasi ke Amerika Serikat dan menjalin kerja sama dengan negara-negara lain. Hal ini sebagai upaya dalam mencari alternatif dukungan ekonomi.

Selain itu, tantangan tarif Donald Trump bisa menjadi keuntungan Indonesia, karena memiliki pasar besar, yang memungkinkan Indonesia membangun aliansi alternatif.

”Jika Indonesia bisa memanfaatkan peluang tersebut, Indonesia tidak hanya mendapatkan pasar, tetapi juga kolaborasi dan investasi dari negara lain,” tandas Khairul Fahmi.

Terkait polemik Indonesia bergabung dalam BRICS, banyak yang berpendapat bahwa manfaat ekonomi dari forum tersebut tidak terlangsung dirasakan. Namun, Presiden Prabowo menekankan bahwa hal tersebut merupakan langkah awal yang memberikan kesempatan Indonesia untuk berurusan dengan negara-negara lain, serta membuka peluang baru yang belum terlihat sebelumnya.

Dia menambahkan, langkah-langkah yang diambil Presiden Prabowo bertujuan menjadikan ekonomi bukan hanya meraih keuntungan, tetapi untuk melindungi masyarakat dan memperkuat ketahanan negara.

”Ekonomi harus menjadi bagian dari strategi keamanan nasional, agar kebijakan ekonomi tidak mengganggu stabilitas nasional. Namun, penting juga untuk memastikan kinerja menteri yang tidak menimbulkan kegaduhan,” ujar Khairul Fahmi.

Sementara itu, Andi Anggana menyampaikan bahwa Indonesia menghadapi pelemahan rupiah yang mencapai Rp 16.500 hingga hampir Rp 17.000. IHSG mengalami penundaan perdagangan akibat kekhawatiran investor terhadap perekonomian.

Secara geopolitik, lanjut dia, Indonesia terjebak dalam ketegangan global, seperti konflik Rusia-Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, dan perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang dapat mengganggu ketahanan energi dan pangan.

”Posisi Indonesia yang memiliki hubungan baik dengan Tiongkok dan Amerika Serikat menuntut respons hati-hati, meskipun sering dianggap lambat. Terlibat dalam organisasi internasional seperti G20 dan BRICS, Indonesia berpeluang menciptakan pasar baru dan meningkatkan hubungan saling menguntungkan,” terang Andi.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore