Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 11 Mei 2023 | 19.42 WIB

Per April 2023, Bank Mandiri Telah Salurkan KPR Rp 50,9 triliun

Nasabah Bank Mandiri menunjukkan kartu ATM chip dari sebelumnya  kartu debit magnetic stripe - Image

Nasabah Bank Mandiri menunjukkan kartu ATM chip dari sebelumnya kartu debit magnetic stripe

JawaPos.com - Bank Mandiri terus memperkuat bisnis kredit pemilikan rumah (KPR) di 2023. Sejalan dengan optimisme pertumbuhan pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat. Salah satunya, menggandeng developer dengan menggelar pameran properti.

Hingga April 2023, bank berlogo pita emas itu telah menyalurkan KPR mencapai Rp 50,9 triliun. Jumlah tersebut tumbuh 9 persen secara year-on-year (YoY).

Bank Mandiri berkolaborasi dengan Agung Podomoro Land menggelar properti expo bertajuk Find Your Property (FYP) with Easy Pay 2023. Memudahkan akses nasabah dalam mencari hunian impian.

Ajang yang diselenggarakan pada 9-21 Mei di Laguna Atrium Central Park Mall, Jakarta itu menawarkan 17 Proyek aset-aset properti terbaik di berbagai kota besar di Indonesia.

Berkaca dari pameran properti Februari lalu, Direktur Jaringan dan Retail Banking Bank Mandiri Aquarius Rudianto menuturkan, antusiasme masyarakat mencari hunian idaman tinggi. Terutama dari kalangan pegawai yang mengincar rumah pertama sebagai tempat tinggal.

"Suku bunga pada event Find Your Property with Easy Pay ini mulai 3,65 persen fix 3 tahun," katanya Aquarius.

Dia berharap, property expo ini dapat mendorong pertumbuhan KPR. Sehingga mampu mencapai target kredit perseroan.

Sementara itu, Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menilai, tren KPR secara industri masih positif dan terus berlanjut di tahun ini. Meski, Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuannya menjadi 5,75 persen. Sebab, permintaannya masih tinggi.

"Khususnya, segmen small to medium," ucapnya.

Justru, segmen menengah ke atas yang menantang. Permintaan pasar relatif kecil. Padahal, dari sisi harga tak terlalu banyak berubah.

Menurut dia, kenaikan suku bunga acuan BI belum tentu memengaruhi suku bunga kredit perbankan secara langsung. Mengingat, kondisi likuiditas perbankan yang masih besar. Dengan begitu, bank bisa mengatur cost of fund agar tidak tinggi.

Apalagi, loan to deposit ratio (LDR) perbankan masih relatif rendah. Artinya jika cost of fund tidak tinggi, bank tidak perlu menaikkan lending.

Di sisi lain, bank harus berhati-hati jika hendak mengerek suku bunga kreditnya. Sebab, dikhawatirkan bakal menambah risiko kredit.

"Kalau bank memang manage supaya tidak ada shock yang berlebihan, saya rasa masih aman aja properti," beber Andry.

Menurut dia, pertumbuhan kredit perbankan masih sehat. Per Maret, kredit tumbuh sebesar 9,9 persen YoY. Memang sedikit melambat dibandingkan posisi akhir tahun 2022 yang mencapai 11 persen YoY.

Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) cenderung melambat. Hanya mencapai 7 persen YoY. Meski dari sisi likuiditas secara umum masih memadai. Tecermin dari loan to deposit ratio (LDR) yang masih berada pada 80 persen.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore