Logo JawaPos
Author avatar - Image
17 Januari 2025, 16.58 WIB

Inflasi Domestik Rendah dan Arah Kebijakan AS Mulai Terlihat Jelas, BI: Waktu Tepat Pangkas Suku Bunga

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan paparan pada konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Jakarta, Rabu (18/12/2024). (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan paparan pada konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Jakarta, Rabu (18/12/2024). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan (BI rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen. Keputusan tersebut sejalan dengan perkiraan inflasi yang terkendali dalam sasaran 2,5 persen dan nilai tukar rupiah yang sesuai fundamental. Juga tetap mencermati ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai dinamika yang terjadi pada perekonomian global dan nasional.

"Bank Indonesia untuk kebijakan moneternya adalah keseimbangan antara pro-stability and growth. Terutama ada suku bunga, stabilisasi nilai tukar, dan pengelolaan likuiditas," ucap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam rapat dewan gubernur (RDG) di Gedung Thamrin, kemarin (15/1). 

Perry menjelaskan, perubahan stance kebijakan bank sentral sudah tercermin ketika menurunkan BI rate. Dia juga mencermati bahwa masih terbuka ruang penurunan suku bunga acuan. Seiring dengan dinamika ekonomi yang terjadi di global dan nasional. 

Menurut dia, kejelasan arah kebijakan pemerintah dan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), berpengaruh pada ketidakpastian pasar keuangan global. Terutama setelah terpilihnya kembali Donald Trump sebagai presiden AS. 

BI menakar arah kebijakan pemerintah AS untuk defisit fiskal sebesar 7,7 persen. Kebijakan fiskal yang lebih ekspansif mendorong yield US Treasury tetap tinggi. Baik pada tenor jangka pendek maupun jangka panjang.

Kuatnya perekonomian AS saat ini memengaruhi ekspektasi pasar terhadap penurunan Fed funds rate (FFR) yang lebih terbatas. BI mengantisipasi bahwa penurunan suku bunga yang dilakukan The Fed pada tahun ini kemungkinan hanya sekali sebesar 25 bps. Arah kebijakan tersebut juga berdampak pada pergerakan dolar AS (USD) yang meningkat.

Akibatnya, semakin menambah tekanan pelemahan berbagai mata uang dunia. Perkembangan tersebut juga menyebabkan makin besarnya preferensi investor global untuk memindahkan portofolionya ke AS. Untuk itu, perlu penguatan respons kebijakan dalam memitigasi dampak rambatan global untuk tetap menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.

"Namanya pengambilan keputusan selalu menghadapi ketidakpastian. Dan ketidakpastian itu ada dua (indikator) tadi, indikator ekonomi keuangan dan kejelasan arah kebijakannya. Nah, kejelasan arah kebijakan itu sudah mulai kelihatan," ujar Perry.

Sementara itu, BI melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung lebih rendah dari prakiraan sebelumnya. Sejalan dengan inflasi yang rendah beberapa bulan terakhir. Tercermin dari inflasi Desember 2024 yang tercatat 1,57 persen year-on-year (YoY). 

Bahkan, perkiraan BI inflasi dalam dua tahun ini juga masih akan tetap rendah. Dengan inflasi yang rendah terbuka untuk menurunkan suku bunga acuan. "Nah oleh karena itu, this is the timing untuk menurunkan suhu rumah supaya bisa menciptakan growth story yang lebih baik," jelas Perry. 

Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi 2024 diprakirakan sedikit di bawah titik tengah kisaran 4,7-5,5 persen. Pada 2025, BI merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 4,7-5,5 persen. Sedikit lebih rendah dari kisaran perkiraan sebelumnya 4,8-5,6 persen.

Perry memperkirakan, ekspor akan lebih rendah sehubungan dengan melambatnya permintaan negara-negara mitra dagang utama, kecuali AS. Konsumsi rumah tangga juga masih lemah, khususnya golongan menengah ke bawah. Sejalan dengan belum kuatnya ekspektasi penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja. 

Pada saat yang sama, dorongan investasi swasta juga belum kuat. Karena masih lebih besarnya kapasitas produksi dalam memenuhi permintaan, baik domestik maupun ekspor. 

Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Royke Tumilaar meyambut positif keputusan bank sentral. "Sinyalnya berarti bagus. At least bunga (kredit perbankan) akan turun," katanya saat ditemui di bilangan Senayan.

Terkait penyesuaian BI rate terhadap suku bunga kredit dan deposito BNI, Royke enggan berkomentar banyak. Sebab, masih menunggu imbasnya terhadap suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Ketika suku bunga SRBI turun, maka uang yang beredar keluar dari BI lebih besar. 

Editor: Estu Suryowati
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore