Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 14 Juni 2024 | 19.46 WIB

Danone Indonesia Dorong Kolaborasi Wujudkan Pelestarian Sumber Daya Air Terintegrasi di DAS Ayung Bali

Danone Indonesia bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan lokal melestarikan DAS Ayung dalam wadah Forum DAS. - Image

Danone Indonesia bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan lokal melestarikan DAS Ayung dalam wadah Forum DAS.

JawaPos.com–Status air di Bali akan menjadi defisit pada 2025. Data mencatat, kebutuhan air di Bali pada 2021 mencapai 5.951,92 liter per detik dan akan menjadi 7.991,29 liter per detik pada 2025.

Direktur Sustainable Development Danone Indonesia Karyanto Wibowo mengatakan, pihaknya sadar bahwa mendorong upaya keberlanjutan merupakan langkah penting untuk memberikan dampak nyata bagi kelestarian lingkungan dan masyarakat. Hal itu sejalan dengan komitmen perusahaan yang tertuang dalam pilar kedua Danone Impact Journey, melestarikan alam.

Danone Indonesia turut aktif dalam upaya pengelolaan sumber daya air yang terintegrasi dari hulu hingga hilir di sejumlah daerah aliran sungai (DAS) di wilayah kami melakukan kegiatan operasional, termasuk di DAS Ayung, Bali,” ujar Karyanto Wibowo.

DAS Ayung merupakan sungai terbesar di Bali dengan luas 109,30 km persegi. Sedangkan anak-anak sungainya memiliki panjang 300,84 km. DAS itu mengalir melewati enam kabupaten dan kota di Bali. Kabupaten Badung, Gianyar, Bangli, Tabanan, Buleleng, dan Kota Denpasar.

Dia mengatakan, sejak Juli 2013, telah bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan lokal. Terdiri atas pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), perguruan tinggi, kelompok petani, relawan serta tokoh masyarakat untuk melestarikan DAS Ayung.

”Forum ini menjadi motor penggerak yang melakukan serangkaian program pengelolaan sumber daya air yang komprehensif dan terintegrasi dari hulu hingga hilir di DAS Ayung,” terang Karyanto Wibowo.

Forum DAS Ayung telah membangun lebih dari 2.600 rorak (saluran/parit buntu), melakukan kegiatan penanaman dan pemeliharaan 4.000 pohon. Dalam pengembangan ekonomi masyarakat, Danone Indonesia bersama Forum DAS Ayung melakukan pendampingan masyarakat dalam mengembangkan Program Desa Wisata berbasis konservasi dan budaya.

Pendampingan yang dilakukan telah membuahkan hasil, dengan Wana Wisata Hutan Pinus Glagalinggah menjadi salah satu tujuan wisata yang populer. Danone Indonesia bersama masyarakat adat telah merancang lokasi wisata. Termasuk melakukan pembukaan jalur trekking dan area camping, pembangunan amphitheatre, serta pengayaan jenis tanaman budaya dan adat Bali seperti Taru Pramana untuk keperluan upacara, tanaman kopi, dan tanaman obat-obatan tradisional.

Menurut Karyanto Wibowo, Danone Indonesia bersama mitra mengembangkan konsep Agromina sebagai upaya untuk mengatasi polusi amonia di Danau Batur. Konsep itu menggabungkan pertanian dan perikanan.

”Pada praktik perikanan, Danone Indonesia mengembangkan proses budi daya ikan menggunakan air yang diperkaya nutrisi. Penggunaan air bernutrisi ini memperpanjang pemanfaatan air untuk praktik pertanian, yaitu penggunaan air kaya nutrisi untuk irigasi dan pemupukan tanaman,” terang Karyanto Wibowo.

Program Desa Wisata Hutan Pinus Glagalinggah serta inisiatif Agromina di wilayah Danau Batur turut menjadi bagian dari rangkaian agenda World Water Forum 2024 yang dikunjungi para delegasi. Program itu dipaparkan sebagai contoh pengelolaan sumber daya air berbasis masyarakat. Pada kawasan tengah, Danone Indonesia bersama mitra mendampingi masyarakat Desa Bongkasa Pertiwi, yang dikenal sebagai desa mandiri, maju, dan sejahtera berdasar prinsip Tri Hita Karana. Desa itu kaya akan keanekaragaman hayati dan mandiri dalam hal energi.

”Kerja sama BUMDes dan Danone Indonesia telah mendorong Desa Bongkasa Pertiwi menjadi Kampung Mandiri sejak 2018. Awalnya, kolaborasi dimulai dengan pengembangan energi terbarukan biogas dari limbah ternak. Saat ini warga telah memiliki dan memanfaatkan 44 reaktor biogas,” ujar Kepala Desa Bongkasa Pertiwi.

I Gusti Agung Rai Astawa, Ketua Kelompok Kehati Pertiwi Lestari, penangkar Jalak Bali di Desa Bongkasa Pertiwi, mengatakan, Jalak Bali memiliki nilai jual yang tinggi. Sehingga ramai menjadi incaran pemburu.

”Dulu, saya merupakan salah satu pemburu Jalak Bali. Namun, saya dan teman-teman di desa ini tergerak untuk melestarikan dan mengembangbiakkan Jalak Bali,” ujar I Gusti Agung Rai Astawa.

”Kami diberikan pelatihan dan pembangunan kandang. Hingga saat ini, sudah terdapat 50 Jalak Bali dan 56 Jalak Putih yang kami budi dayakan. Harapan kami, jumlah dan kualitas Jalak Bali terus meningkat dan terhindar dari kepunahan,” ujar I Gusti Agung Rai Astawa.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore