
Pedagang saat mengecek kondisi beras di tokonya, Jakarta, Rabu (7/3/2024).
JawaPos.com – Upaya meningkatkan produksi beras tahun ini dihadapkan pada masalah cukup krusial. Yakni, penyusutan luas tanam hampir 2 juta hektare.
Hal itu terungkap dalam rapat antara Komisi IV DPR dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Jakarta kemarin (13/3). Salah satu ”menu” rapat adalah pembahasan ketersediaan pangan.
Amran menyebutkan, target produksi beras tahun ini sebanyak 32 juta ton. Untuk mengejar target produksi beras itu, ada beberapa masalah yang berpotensi menjadi penghambat. Di antaranya, luas tanam padi yang menyusut cukup signifikan.
Dia mengatakan, luas tanam padi pada kurun 2023–2024 berkurang hampir 2 juta hektare dibandingkan periode 2015–2019. Berkurangnya luas tanam padi tersebut otomatis berdampak pada penurunan produksi beras. Penurunan luas tanam itu antara lain disebabkan pengalihan lahan dan faktor cuaca.
Masalah lainnya adalah berkurangnya volume pupuk subsidi setiap tahun. Amran menuturkan, pada periode 2014–2018, alokasi pupuk subsidi mencapai 9,55 juta ton. Alokasi itu terus berkurang. Puncaknya pada 2024, volume pupuk bersubsidi hanya 4,73 ton. ”Kami ingin mengembalikan alokasi volume pupuk bersubsidi menjadi 9,55 juta ton kembali,” katanya.
Menurut dia, dengan alokasi pupuk yang tinggal 4,73 juta ton, diperkirakan ada 20 persen petani yang tidak bisa mengakses pupuk bersubsidi. Dengan begitu, hal itu berpengaruh pada proses tanam padi.
Amran menambahkan, upaya meningkatkan produksi beras tahun ini juga masih akan terdampak perubahan iklim. Menurut perhitungannya, perubahan iklim membuat produksi padi berpotensi susut sekitar 30 persen. Untuk mengatasi masalah iklim itu, ada beberapa strategi yang dilakukan Kementan. Di antaranya, upaya pompanisasi air sungai untuk lahan sawah tadah hujan.
Meski dihadapkan pada sejumlah tantangan, Amran mengatakan bahwa kebutuhan beras Maret hingga Mei nanti masih aman. ”Kekhawatiran kami adalah stok beras pada Juni sampai Oktober,” ujarnya.
Amran menjelaskan, ketersediaan stok beras pada Juni hingga Oktober terkait dengan luas tanam pada Februari lalu.
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, harga beras pada minggu pertama Maret naik 3,06 persen dibandingkan rata-rata harga pada Februari 2024. ”Namun demikian, jumlah wilayah yang mengalami kenaikan harga beras pada minggu pertama Maret sedikit menurun dibanding Februari, yaitu terjadi di 75,28 persen wilayah Indonesia,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini pada rakor inflasi yang digelar Kemendagri kemarin.
Pudji memerinci, jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga beras pada Februari mencapai 281 kabupaten/kota dengan harga rata-rata Rp 15.482 per kg. Sementara itu, pada minggu pertama Maret jumlahnya turun menjadi 271 kabupaten/kota dengan harga rata-rata Rp 15.956 per kg. (wan/dee/c6/fal)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
