Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 25 Januari 2024 | 04.35 WIB

Gibran akan Dorong 'Smart Farming' atasi Masalah Pangan, Pengamat UGM: Bakal Menarik Generasi Muda Terjun ke Pertanian

Drone sprayer, salah satu teknologi pertanian yang dipamerkan di Pameran Pangan Plus 2023, rangkaian acara Rakernas IV PDIP, Jakarta, Sabtu (30/9). - Image

Drone sprayer, salah satu teknologi pertanian yang dipamerkan di Pameran Pangan Plus 2023, rangkaian acara Rakernas IV PDIP, Jakarta, Sabtu (30/9).

JawaPos.com - Calon wakil presiden nomor urut 02 Gibran Rakabuming Raka menyampaikan akan mendorong 'smart farming' sebagai salah satu langkah mengatasi masalah pangan di Indonesia. Selain itu, untuk meningkatkan produktivitas pertanian, pihaknya juga akan menggenjot ketersediaan pupuk serta mekanisasi.

"Kita harus menggandeng anak-anak muda. Di Jabar, ada program Petani Milenial. Ya kita harus mengedepankan program 'smart farming'. Kita pakai IoT untuk mengecek kesuburan tanah, Ph tanah, keasaman tanah. Kita pakai drone untuk menyemprotkan pestisida," ungkap Gibran dalam debat cawapres Minggu (21/1) lalu.

Terpisah, menurut pengamat pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Bayu Dwi Apri Nugroho, konsep 'smart farming' atau pertanian pintar bakal menarik minat generasi muda untuk terjun di sektor pertanian. "'Smart farming' hadir sebagai terobosan baru metode pertanian cerdas yang memadukan teknologi sensor tanah dan cuaca dengan 'agri drone sprayer' (drone pertanian penyemprot pestisida)," kata Bayu, Rabu (24/1).

Dia menuturkan dalam beberapa dekade terakhir, jumlah pemuda yang memilih bertani menurun drastis karena lebih memilih merantau atau bekerja di sektor lain. Sehingga di desa hanya tersisa generasi tua yang masih mau menggarap sawah.

Baca Juga: BPS Beberkan Tantangan Sektor Pertanian, Minim Regenerasi hingga jadi Kantong Kemiskinan

Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, Bayu mengakui permasalahan di sektor pertanian tidak cukup hanya diselesaikan dengan mengandalkan sistem tradisional secara turun temurun. Melalui konsep 'smart farming', kata dia, para petani dapat memanfaatkan bantuan teknologi informasi untuk mengakses data dari sensor maupun drone atau pesawat nirawak secara realtime, akurat dan nyata melalui telepon pintar.

Bayu mengatakan, sektor pertanian hingga saat ini masih berkontribusi positif dalam mewujudkan pembangunan di tanah air. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dia menyebutkan sektor pertanian masih menjadi salah satu dari tiga sektor utama penggerak ekonomi nasional setelah industri dan perdagangan.

Dia mengatakan kebijakan pangan pemerintah yang direpresentasikan dalam berbagai program terobosan pembangunan pertanian bertujuan untuk mencapai kedaulatan pangan, peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat umum.

Menurut dia, pemerintah dan masyarakat perlu bersinergi dan berinovasi dalam pengembangan pertanian, salah satunya melalui pengembangan teknologi digital dalam konsep pertanian pintar. "Teknologi digital ini dapat dimanfaatkan selama proses 'on farm' dan 'off farm'," kata dia.

Baca Juga: Hasil ST2023 BPS: Jawa Barat jadi Provinsi dengan Jumlah UTP Urban Farming Terbanyak se-Indonesia

Melalui teknologi, kata dia, informasi harga, ketersediaan komoditas pertanian seperti bibit dan pupuk, luas tanaman komoditas, hingga prediksi masa panen dapat diakses petani dalam waktu yang cepat. Karena itu, dia meyakini selain menarik minat pemuda, pemanfaatan teknologi dalam 'smart farming' akan mampu meningkatkan kesejahteraan para petani.

"Pengembangan penggunaan teknologi seperti ini sangat dibutuhkan untuk pertanian di Indonesia," tutup Bayu.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore