Anies Baswedan (tengah) bersama Wakil Presiden ke-10 dan Ke-12 Jusuf Kalla (kiri) dan Sudirman Said usai pertemuan di kediaman pribadi JK di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan, Sabtu (7/10). (ANTARA)
JawaPos.com - Bakal calon presiden (bacapres) Koalisi Perubahan, Anies Baswedan mengkritik kinerja realisasi investasi di era pemerintahan Jokowi. Anies menyebut, lonjakan realisasi investasi tidak sejalan dengan penurunan angka pengangguran.
"Saat ini, investasinya meningkat tapi penyerapan kerjanya justru menurun," kata Anies dalam acara Saresehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta, Rabu (8/11).
Tak hanya itu, Anies juga menilai bahwa pertumbuhan ekonomi RI belum berhasil menyelesaikan pengangguran, sehingga ketimpangan yang ada ini tentu menjadi PR yang sesungguhnya bagi pemerintahan selanjutnya.
“Kita Alhamdulillah berhasil meningkatkan rata-rata pertumbuhan di atas 6 persen, tetapi ini tidak kemudian muncul menjadi lapangan pekerjaan yang setara,” imbuhnya.
Anies mencatat, realisasi investasi di Indonesia pada tahun 2013 hanya mencapai Rp 399 triliun. Kemudian, aktivitas penanaman modal di Tanah Air meningkat pesat hingga mencapai Rp 1.200 triliun pada 2022 lalu.
"Tetapi penyerapan tenaga kerja signifikan menurun," imbuh Mantan Gubernur DKI tersebut.
Anies mencontohkan, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Maluku Utara sebagai daerah tujuan investasi mengalami pertumbuhan hingga 22,94 persen. Namun, capaian positif investasi tersebut tidak sejalan dengan penurunan angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang hanya mencapai 0,17 persen.
"Penurunan tingkat pengangguran terbuka hanya di bawah satu persen. Itu baru Maluku Utara," jelasnya.
Oleh karena itu, Anies menyebut kinerja investasi yang selalu mencapai target di era Presiden Jokowi justru tak dinikmati masyarakat Indonesia. Di mana, masyarakat hanya menjadi penonton dari kegiatan investasi yang ada.
"Kemudian ,masyarakat banyak tempat hanya menjadi penonton tidak merasakan pertumbuhan ekonomi yang ada di kawasan itu," pungkas Anies.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) resmi mengeluarkan siaran pers Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Tahun 2023 pada Senin (6/11/2023) kemarin. Tercatat, sebanyak 212,59 juta penduduk Indonesia berada pada usia kerja, dengan 147,71 juta orang diantaranya merupakan angkatan kerja.
Jumlah kenaikan tersebut sebesar 0,85 persen dari tahun sebelumnya, yakni sebanyak 3,99 juta orang. Berdasarkan data BPS, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia Tahun 2023 diketahui mencapai 5,32 persen.
Jumlah ini turun dari persentase Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tahun sebelumnya, sebanyak 0,54 persen, dengan total sebanyak 7,86 juta orang Indonesia menganggur.
Meskipun mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah kemiskinan di Indonesia masih terbilang banyak, dibandingkan tahun 2020 yang hanya mencapai 6,93 orang.