
Areal heap leaching di Tambang Tujuh Bukit atau Tumpang Pitu, di Sumberagung, Pesanggraan, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (31/1). (Estu Suryowati/JawaPos.com)
BARU tiga bulan terakhir saya menjajal peruntungan dengan menabung emas. Sebagai amatiran, saya berharap ketika punya sedikit dana, harga logam mulia tersebut lagi rendah-rendahnya. Dengan begitu, saya bisa mendapatkan gramasi yang lebih tebal.
Selama mengoleksi emas tadi, saya melihat pergerakan harga yang naik-turun. Beberapa kali harga jual maupun harga pembelian kembalinya (buy back) jatuh. Pada kesempatan lain, harganya pernah melambung. Kata para analis, imbas gejolak geopolitik global.
Kemarin Sabtu (1/2) di Brankas, harga jualnya dibanderol Rp 731 ribu pergram. Sedangkan buy back-nya senilai Rp 699 ribu pergram. Loncatan yang cukup tinggi setelah empat hari stagnan. Sayapun penasaran dari mana komoditas tambang yang jadi salah satu aset safe haven favorit itu berasal.
Terletak di ujung timur bagian selatan pulau dengan penduduk terpadat di Indonesia, ada satu kabupaten yang menyimpan gunung emas. Ialah Banyuwangi, salah satu daerah penghasil emas di Indonesia selain Papua, Sumbawa, Pongkor, dan wilayah lain.
Gunung emas di Banyuwangi, tepatnya terletak di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, dan dikenal dengan nama Tumpang Pitu atau biasa juga disebut Tambang Tujuh Bukit. Pemegang konsesi Tumpang Pitu yaitu perusahaan pertambangan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), PT Bumi Suksesindo (BSI).
Mengawali 'pendakian' Tumpang Pitu, saya bersama rombongan Kementerian ESDM dan beberapa media lain berbincang dengan Direktur BSI, Boyke Abidin. Dia menjelaskan, penambangan perdana bijih (ore) di Tambang Tujuh Bukit ini dimulai pada Desember 2016.
Photo
Kabag Hukum Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara, Kementerian ESDM, Sunindyo (kiri) dan Direktur PT Bumi Suksesindo Boyke Abidin (kanan), Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (31/1). (Estu Suryowati/JawaPos.com)
Pada kuartal I 2017, Tumpang Pitu berhasil memproduksi sebesar 25.063 ounce (oz) emas. Sementara hingga kuartal III 2019, produksinya mencapai 174.216 oz, dan diproyeksikan mencapai 200-220 ribu oz hingga akhir tahun.
Dari sisi tenaga kerja, sebanyak 65 persen dari 2.400an orang yang dipekerjakan adalah warga Kabupaten Banyuwangi. Dari sekitar 1.560 orang itu, Boyke mengklaim sebanyak 54 persen di antaranya adalah warga Kecamatan Pesanggaran.
Tak hanya menyerap tenaga kerja, perusahaan yang 6,42 persen sahamnya dipegang Pemkab Banyuwangi itu juga memiliki program tanggungjawab sosial (CSR). Empat bidang utamanya yaitu pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan infrastruktur publik.
Boyke mengatakan, CSR tersebut merupakan bagian dari good mining practices, di samping tata kelola operasi produksi dan lingkungan. Sebab saat ini, kata Boyke, social license sama pentingnya dengan formal license.
Bisa saja perusahaan tambang sudah mengantongi izin formal dari pejabat atau instansi yang berwenang. Namun apabila 'izin sosial' ini tak didapat, kata Boyke, boleh jadi sebuah tambang besar batal beroperasi.
"Usaha yang melibatkan daya guna sumber daya alam, dan orang banyak sangat tergantung pada bagaimana mengelola social license ini," katanya.
Pemberdayaan Ekonomi
Rombongan pun sempat mampir ke salah satu UMKM binaan BSI yang punya produk unggulan olahan buah naga. Komoditas hortikultura berwarna merah keunguan ini memang melimpah di Banyuwangi.
Ketua UMKM, Agustin mengatakan, mereka mendapat pendampingan, pelatihan, dan bantuan dari BSI sejak 2017. Bantuannya berupa hibah, alat produksi, serta tempat usaha.
"Produk unggulannya dodol buah naga, karena potensinya besar di sini," kata Agustin. Rata-rata per hari, mereka bisa menghasilkan 14-15 pak dodol buah naga, atau sekitar 200 pak per bulan.
Photo
Agustin mendemonstrasikan cara membungkus dodol buah naga, Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (31/1). (Estu Suryowati/JawaPos.com)
Selain UMKM buah naga, rombongan juga sempat mengunjungi UMKM budidaya magot dari larva lalat hitam atau Black Soldier Fly (BSF). Budidaya magot ini memanfaatkan sampah rumah tangga, misalnya sisa-sisa makanan atau sampah organik lain dari areal tambang.
Magot kering (dried maggot) atau konsentratnya bisa digunakan sebagai pakan ikan atau ayam. Tapi, banyak peternak lebih menyukai larva. Sebab, larva dinilai punya protein lebih tinggi dibanding dried maggot yang sudah bercampur bekatul dan jagung.
Di samping pemberdayaan ekonomi, anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) itu juga memiliki program CSR di bidang infrastruktur publik. Antara lain, pengerasan jalan dari Desa Pancer hingga kawasan wisata Pulau Merah sepanjang 15 kilometer (km) dengan anggaran Rp 20 miliar, pembangunan jalan di lima desa sekitar tambang sepanjang 102 km, dan normalisasi sungai sepanjang 24 km.
Photo
Pembudidaya magot larva lalat hitam (BSF) Pega Indonesia tengah beraktivitas di kandang, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (31/1). (Estu Suryowati/JawaPos.com)
"Kami juga membangun sarana air bersih untuk 200 kepala keluarga dengan anggaran Rp 700 juta di Rogojampi," ujar Corporate Communications Manager BSI, Teuku Mufizar Mahmud.
Di sela-sela kunjungan, Kabag Hukum Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara, Kementerian ESDM, Sunindyo menilai, program CSR BSI sudah selaras dengan cita-cita pembangunan berkelanjutan. Namun, menciptakan program yang mampu melahirkan kemandirian masyarakat merupakan tantangan tersendiri.
Sunindyo juga melihat, dengan segala risiko bisnis serta dampak terhadap lingkungan masyarakat, sektor tambang menghadapi tantangan yang tak mudah. Maka dari itu, dia berharap kolaborasi BSI dengan masyarakat bisa terus berjalan baik.
Operasi Produksi
Selama 'pendakian', sesekali rombongan singgah di suatu spot untuk mendengar penjelasan tentang tata kelola operasi produksi dan lingkungan dari Chief Geologist BSI, Agus Purwanto. Saat ini, penambangan di dua pit (lubang) yakni Pit B East dan Pit B West akan segera selesai. Untuk selanjutnya, BSI akan menambang dua lubang lain yakni Pit A dan Pit C.
Sayangnya, kadar emas di dua lubang yang belum dikeruk itu lebih rendah dari dua pit terdahulu, hanya sekitar 0,6-0,7 persen. "Maka target produksi 2020 hanya 182,9 ribu oz, lebih rendah dari 2019 yang sebesar 200-220 ribu oz, karena ada penurunan kadar tadi," kata Agus.
Lebih lanjut dia menjelaskan, guna meminimalisasi dampak lingkungan, BSI menggunakan metode heap leaching. Sederhananya, pengolahan ini melarutkan mineral yang sudah ditumpuk secara berundak (terasering) di areal tertentu dengan menggunakan sianida.
Agar cairan tak mencemari tanah, maka areal yang akan ditumpuki ore dilapisi terlebih dahulu dengan tanah liat dan High Density Polyethylene (HDPE) atau polietilena berdensitas tinggi. Sisa mineral yang tidak dilarutkan tidak dibuang ke laut.
Sisa mineral dibiarkan menumpuk di situ dan akan menjadi 'gunung baru'. Maka, ada yang menganalogikan metode heap leaching ini seperti 'memindahkan' gunung. Sementara itu, 'gunung lama' yang sudah dieksploitasi akan direhabilitasi dengan berbagai jenis pohon, yang bibitnya juga sudah disiapkan di persemaian.
Produk dari BSI ini sendiri berupa bullion, yaitu emas atau perak murni dengan tingkat kemurnian minimal 99,5 persen. Bullion ini kemudian akan dibawa ke pemurnian PT Antam (Persero) Tbk, di Pulogadung, Jakarta.
Photo
Lokasi persemaian bibit PT Bumi Suksesindo, di Tambang Tujuh Bukit, Sumberagung, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (31/1). (Estu Suryowati/JawaPos.com)
Rehabilitasi
Lantaran menggunakan metode heap leaching, maka BSI selalu mengupayakan lahan bekas tambang direhabilitasi dengan baik. Rehabilitation Officer BSI, Rizki Marlinda menuturkan, mereka mengandalkan metode hydro-seeding untuk menebar bibit tanaman reklamasi.
Metode ini cocok digunakan di areal miring dan sulit dijangkau. "Hydro-seeding itu air tapi sudah ada bibitnya," jelasnya singkat.
Sepanjang tahun lalu, luas areal yang sudah direklamasi dengan metode ini mencapai 6,4 hektare (ha). Jika ditambah dengan metode lain, total luas yang sudah direklamasi mencapai 32 ha. Beberapa jenis pohon yang ditanam antara lain johar, sengon laut, sengon buto, trembesi, bayur, buni, beringin, jabon, dan mahoni.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
