Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 5 Juli 2023 | 19.05 WIB

S&P Global Rilis PMI Indonesia Juni Sentuh Level 52,5 Persen, Industri TPT Masih Lesu

Pekerja menlayani calon pembeli di salah satu toko tektil di kawasan Mayestik, Jakarta, Senin (12/9/2022). Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) mengatakan, pertumbuhan industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Indonesia di kuarta

JawaPos.com – Manufaktur melaju cepat seiring dengan meningkatnya permintaan baru di pasar. Kondisi positif itu tecermin dari capaian purchasing managers' index (PMI) manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global Juni 2023 menyentuh level 52,5 atau naik signifikan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya di tingkat 50,3.

"Bersyukur bahwa aktivitas industri manufaktur kita terus bergeliat. Tingkat optimisme dari para pelaku industri kita secara keseluruhan juga meningkat," ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta kemarin (4/7).

Menurut Agus, kenaikan PMI manufaktur Indonesia pada Juni sejalan dengan kenaikan indeks kepercayaan industri (IKI) yang dirilis sebelumnya. IKI Juni 2023 mencapai 53,93 atau meningkat 3,03 poin jika dibandingkan pada Mei 2023.

Menperin menuturkan, manufaktur selama ini memberikan kontribusi yang besar terhadap perekonomian nasional. Karena itu, pemerintah berfokus menjalankan kebijakan-kebijakan strategis yang mendukung sektor industri.

"Seperti menjaga ketersediaan bahan baku dan energi, perluasan pasar, pengoptimalan produk dalam negeri, serta substitusi impor," bebernya.

Meski demikian, di tengah kondisi ekspansif manufaktur nasional, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) masih mengalami kontraksi. Bahkan termasuk menjadi satu di antara tiga subsektor manufaktur yang mengalami kontraksi pada survei IKI Juni 2023.

"Penyebab sektor tekstil masih menderita karena pasar domestik dibanjiri produk impor, terutama yang masuk melalui PLB (pusat logistik berikat). Kemenperin meminta agar dilakukan pengawasan ketat atas barang keluar dari PLB yang masuk ke pasar domestik serta terhadap marketplace yang juga merupakan pintu masuk produk tekstil impor," papar Agus.

Kemenperin juga melihat peluang bagi industri TPT dengan adanya tahun ajaran baru sekolah. Kondisi itu diyakini mendorong dan membangkitkan sektor TPT yang sedang tertekan.

Berdasar laporan S&P Global, ekspansi yang dialami industri manufaktur Indonesia pada Juni 2023 didukung peningkatan permintaan baru. Akibatnya, terjadi kenaikan produksi yang turut berdampak pada bertambahnya tenaga kerja.

"Laju kenaikan permintaan secara keseluruhan tergolong solid meski kurangnya permintaan eksternal terus menghambat pertumbuhan penjualan total," ujar Economics Associate Director S&P Global PMI Market Intelligence Jingyi Pan.

Sementara itu, berdasar data Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), sebagai salah satu mata rantai industri tekstil, pabrik garmen telah memangkas 79.316 pekerja sepanjang periode Januari sampai awal November 2022.

Sekretaris Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Danang Girindrawardana menyampaikan, pihaknya kembali melihat potensi badai PHK pada kuartal III 2023. Apalagi jika permintaan dari pasar domestik masih anjlok akibat banjir impor dari luar negeri hingga empat bulan ke depan.

"Barang-barang TPT dan garmen dari luar terus-menerus membanjiri pasar domestik tanpa kontrol dari pemerintah dan penegak hukum," kata Danang.

Terpisah, Ketua Umum API Jemmy Kartiwa Sastraatmaja menyebutkan, 70 persen hasil produksi industri TPT dalam negeri akan dipasarkan di pasar domestik. Banjir impor membuat sektor tekstil terpuruk. (agf/c14/dio)

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore