Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 9 Februari 2017 | 16.03 WIB

Target Pertumbuhan Ekonomi Baru Sesuai Target Kalau Hal ini Terpenuhi

Menkeu Sri Mulyani, Menteri BUMN Rini Soemarno di dampingi petinggi Bank Mandiri di Mandiri Investment Forum (MIF) 2017, Rabu (8/2). - Image

Menkeu Sri Mulyani, Menteri BUMN Rini Soemarno di dampingi petinggi Bank Mandiri di Mandiri Investment Forum (MIF) 2017, Rabu (8/2).

Target pertumbuhan ekonomi melebihi 5,1 persen membutuhkan investasi. Tahun ini pemerintah mengklaim kon­disi fiskal lebih prudent, terutama untuk pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM).

Selain infrastruktur, pemerintah berharap investasi diarahkan ke sektor-sektor lain. Apalagi, pemerintah telah membuka investasi asing 100 persen di bidang pariwisata, film, farmasi, marketplace, dan e-commerce.

''Ini meningkatkan ease of doing business ke ranking ke-91 atau naik 15 peringkat dari tahun sebelumnya,'' kata Menko Perekonomian Darmin Nasution dalam Mandiri Investment Forum kemarin (8/2).

Selain pariwisata, pemerintah berupaya menggenjot investasi di sektor kesehatan. Sebab, kontribusi sektor kesehatan terhadap produk domestik bruto (PDB) hanya 2,8 persen. Di Asia Tenggara, sektor kesehatan menyumbang rata-rata 4,6 persen dari PDB. Jika sektor kesehatan tumbuh, industri seperti farmasi, properti, dan asuransi ikut mengalami pertumbuhan.

Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,02 persen pada 2016 cukup baik untuk kategori negara pengekspor komoditas. Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi 1 persen, dibutuhkan peningkatan pertumbuhan investasi 6,4 persen. ''Tapi, pertumbuhan ekonomi ke 6 persen dari 5,02 persen, rasanya, tidak mungkin. Kalau 5 persen hingga 5,2 persen, baru realistis,'' tuturnya.

Demi meningkatkan investasi, Chatib menilai bank harus mampu meningkatkan loan to deposit ratio(LDR) yang tahun lalu mencapai 93 persen. Investasi harus didorong memanfaatkan kredit bank sehingga pertumbuhan kredit bisa tembus double-digit.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai faktor investasi bakal terus terpengaruh keyakinan pelaku pasar. Proyeksi pertumbuhan ekonomi 5,1 persen diyakini mampu membentuk optimisme. Namun, ketika ada hambatan dari sisi inflasi, diyakini tetap terjadi pertumbuhan ekonomi. ''Government spending akan dijaga supaya tidak menimbulkan gangguan,'' ungkapnya.

Sri mengakui, pemangkasan anggaran Rp 137,6 triliun pada APBNP tahun lalu memengaruhi pencapaian pertumbuhan ekonomi. Belanja kementerian dan lembaga terpangkas Rp 64,7 triliun. Selain itu, ada penghematan dana transfer ke daerah Rp 70,1 triliun dan dana desa Rp 2,8 triliun. (rin/dee/c14/noe) 

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore