Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 25 Desember 2017 | 16.05 WIB

Dorong Kredit, BI Longgarkan Kebijakan Moneter di Agustus 2017

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo saat mengumumkan penurunan  bunga acuan pada Agustus 2017 - Image

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo saat mengumumkan penurunan bunga acuan pada Agustus 2017

JawaPos.com - Setelah sempat menahan tingkat suku bunga acuan, atau yang biasa dikenal dengan BI 7 Day Repo Rate hampir setahun, Bank Indonesia (BI) akhirnya kembali melonggarkan kebijakan moneternya.


BI dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20-22 Agustus 2017, menurunkan bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,5 persen. Penurunan ini dilakukan BI setelah suku bunga sempat ditahan di level 4,75 persen dalam jangka 10 bulan.


"Dalam RDG, Bank Indonesia memutuskan untuk menurunkan BI 7 Days Repo Rate menjadi 4,5 persen dan berlaku efektif 23 Agustus 2017," ujar Gubernur BI Agus Martowardojo saat mengumumkan penurunan suku bunga di Kantor Pusat BI, Jakarta, Selasa (22/8).


Pada September 2017, BI kembali menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dari 4,5 persen menjadi 4,25 persen.


Terakhir, pelonggaran kebijakan moneter dilakukan BI dengan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Oktober 2016, dengan ke level 4,75 persen.


Gubernur BI menegaskan bahwa penurunan suku bunga konsisten dengan adanya ruang pelonggan kebijakan moneter dan rendahnya realisasi dan prakiraan inflasi tahun 2017 dan 2018, serta terkendalinya defisit transaksi berjalan dalam batas yang aman.


Sementara Asisten Gubernur BI, Dody Budi Waluyo menambahkan bahwa penurunan suku bunga diharapkan dapat mendukung perbaikan intermediasi perbankan dan pemulihan ekonomi domestik yang sedang berlangsung.


"Bank Indonesia memandang bahwa tingkat suku bunga acuan saat ini cukup memadai sesuai dengan prakiraan inflasi dan makro ekonomi ke depan," tutupnya.


BI memprediksi prospek perekonomian global akan semakin membaik, terutama di negara maju. Pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan lebih tinggi sejalan dengan perbaikan permintaan domestik.


Sementara pertumbuhan ekonomi di Eropa membaik seiring dengan peningkatan aktivitas konsumsi dan penurunan ketidakpastian sektor keuangan.


Di negara berkembang, perekonomian Tiongkok diperkirakan tumbuh lebih baik didukung oleh konsumsi yang kuat dan penyaluran kredit yang meningkat.


Relatif membaiknya pertumbuhan ekonomi global dan tetap tingginya harga komoditas dunia berdampak positif terhadap kinerja ekspor Indonesia.


Perbaikan permintaan domestik sepanjang triwulan III 2017, terutama pada konsumsi rumah tangga mulai terlihat pada membaiknya penjualan ritel dan penjualan barang-barang tahan lama.


Investasi bangunan diperkirakan tetap tumbuh baik sejalan dengan belanja pemerintah, sementara investasi nonbangunan terutama pada industri berbasis ekspor komoditas diperkirakan membaik sejalan dengan tetap tingginya harga komoditas dunia.


Di sisi sektoral, meskipun masih lemah, perbaikan mulai terlihat pada sektor Perdagangan, Hotel dan Restauran. Sektor Industri Pengolahan juga diperkirakan mulai membaik terutama di sektor-sektor yang terkait dengan kegiatan ekspor, seperti alat angkut serta kimia dan farmasi.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore