Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 1 April 2020 | 20.16 WIB

CBC: Awal April Ini Dana Pinjaman dari IMF Sudah Ada untuk Indonesia

Founder Bumi Global Karbon (BGK), Foundation, Achmad Deni Daruri menilai, dari seluruh bank nasional, kinerja BTN dalam menjalankan transformasi berkelanjutan paling unggul. - Image

Founder Bumi Global Karbon (BGK), Foundation, Achmad Deni Daruri menilai, dari seluruh bank nasional, kinerja BTN dalam menjalankan transformasi berkelanjutan paling unggul.

JawaPos.com - Pemerintah Indonesia butuh dana besar untuk bisa memerangi wabah Virus Korona. Sejumlah pakar menyarankan ada adanya relaksasi defisit pembiayaan hingga 10 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Salah satunya, President Director Center for Banking Crisis (CBC) Achmad Deni Daruri menerangkan, apabila angka defisit APBN hanya diproyeksikan 5 persen, dikhawatirkan ekspansi fiskal secara riil tidak akan berubah.

Padahal, perang melawan COVID-19 harus memiliki efek ekspansi fiskal yang riil yang signifikan. Karena itu, sudah saatnya pembiayaan diutamakan dari IMF karena ancaman terbesar dari perang terhadap Korona virus yang dilakukan oleh masyarakat dunia akan menyebabkan ancaman krisis neraca pembayaran.

"Targetnya, awal April dana pinjaman dari IMF sudah dijamin 100 persen diperoleh Indonesia jika membutuhkan," ujar Deni dalam keterangan tertulisnya pada JawaPos.com, Selasa (31/03)

Untuk menjalankan program-program jaring keamanan, kata Deni, pembiayaannya bisa didapatkan dari Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB), yang targetnya pada pertengahan April harus sudah terealisasikan.

"Untuk melakukan program bailout, pembiayaan diproyeksikan berasal dari pendanaan Bank Indonesia, seperti yang juga dilakukan oleh bank sentral Amerika Serikat," paparnya.

Untuk itu, lanjut Deni, Bank Indonesia (BI) harus segera melakukan currency swap dengan bank sentral Amerika Serikat secepatnya. Sementara untuk pinjaman bilateral akan sulit diperoleh karena semua negara membutuhkan dana untuk perang melawan Korona virus ini.

"Bahkan, Tiongkok diperkirakan kuartal pertama tahun ini, pertumbuhan PDB-nya mengalami negatif 9 persen," imbuhnya.

Belajar dari sejarah protocol krisis, selama krisis sistemik masa lalu, dana untuk pemulihan krisis tidak dapat dipenuhi dana asuransi deposito saja, tetapi juga harus bergantung pada suntikan likuiditas oleh bank sentral, atau penyediaan dana publik oleh pemerintah.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore