
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
”Memang seperti itu kelihatannya,” bapa tersenyum. ”Tapi aku mati dengan membersihkan dosa mereka.”
Di tengah lamunannya, tiba-tiba ada seekor baleo naik ke permukaan dengan menyemburkan air dari lubang di punggungnya. Baleo itu mengibaskan ekornya yang besar –bahkan bila diukur akan lebih lebar dari kapalnya. Pahar sempat tertegun takjub melihat semburan dari punggung baleo tersebut.
Baleo itu beberapa kali keluar masuk laut, ia kemudian tertegun menatap Pahar. Kedua mata mereka saling tatap. Pahar sendiri tidak mengerti mengapa hal ini terjadi. Akan tetapi, karena hal aneh ini, Pahar menjadi ragu dengan dirinya sendiri. Kakinya bergetar hebat. Tatapan baleo itu begitu ganas seolah ingin melahapnya.
”Apakah kau menantangku?” gumam Pahar.
Pahar lantas teringat ucapan bapa mengenai pertarungan seorang lamafa dan baleo. Ingatan itu membuat Pahar segera mengayuh kapal kecilnya mendekat. Akan tetapi, baleo itu sama sekali tidak bergerak. Bahkan ketika Pahar mulai ambil kuda-kuda untuk menusukkan tempuling-nya ke tubuh baleo, ikan besar itu tak memberi respons apa pun.
Begitulah ketika tempuling Pahar sudah menancap, segera baleo itu mengepakkan ekornya. Baleo itu juga melompat beberapa meter ke udara dan membuat Pahar terpelanting. Cuma Pahar tidak melepaskan tempuling-nya meski sang baleo menyeretnya ke dasar laut.
”Aku tidak akan menyerah!” desis Pahar di dalam hati. ”Ini pertarunganku!”
Pahar terus bertahan dengan seretan baleo. Tubuhnya seakan digiring menuju suatu dasar laut yang gelap. Hanya saja, Pahar seakan telah membulatkan tekadnya. Ia tidak akan melepaskan tempuling yang dimilikinya –sebelum baleo besar itu kalah. Begitulah semakin dalam baleo itu menyeretnya ke dasar laut, ia seakan melihat fragmen-fragmen hidupnya –khususnya seluruh kenangan dengan bapa.
”Kau baik-baik saja kan?” suara bapa seketika muncul.
”Bapa!?” Pahar kaget.
”Lepaskanlah kalau kau tidak sanggup,” desis bapa. ”Ingatlah pertarunganmu dengan baleo sama seperti kau melawan dirimu sendiri. Ada batasnya.”
”Aku tahu,” ungkap Pahar. ”Oleh karena itu, aku ingin mengalahkan diriku sendiri dan melihat batas itu.”
Baleo itu kini berubah menjadi bapa. Paledang yang digunakan Pahar untuk menyerang tadi mendadak menghilang. Akan tetapi, di dasar laut Pahar sudah kehilangan keinginannya untuk memenangkan pertarungan. Pahar hanya ingin ikut dengan baleo itu menuju suatu batas yang masih tak diketahuinya sebelum sampai ke sana.
***

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
