
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
”Oh, tidak, Paman!” Korie segera menimpali. ”Pahar hanya menemuiku untuk memberikanku kalung kerang.”
Pamannya tersenyum. Pria itu kenal Pahar karena beberapa kali berpapasan dengannya di naje. Paman Korie bercerita kalau Pahar adalah pria tekun dan giat. Ia sangat jarang meninggalkan pekerjaannya karena ajakan yang tak penting. Ia juga tak pernah meminum sagure. Demikianlah karena cerita itu, Korie akhirnya memberikan kesempatan kepada Pahar.
”Datanglah kau dan bapamu ke rumah,” tandas Korie. ”Biarkan keluargaku mengenal keluargamu terlebih dahulu.”
”Apakah itu tak berlebihan?” Pahar ragu. ”Karena…”
”Tidak,” Korie menimpali. ”Justru biar keluarga kita dahulu. Setelah itu baru kita.”
Pahar mengangguk kuyu dan pulang dengan hati berat. Ia tak berpikir akan sejauh itu Korie memintanya. Esok harinya, Pahar datang ke rumah Korie hanya dengan ibunya. Keluarga Korie pun sedikit tersinggung dengan hal itu. Apalagi setelah tahu bahwa Pahar sudah lama ditinggal oleh bapanya. Demikianlah setelah pertemuan itu, Korie dan Pahar kembali bertemu. Kini mereka membuat janji di gripe.
”Keluargaku tak suka kau datang hanya dengan ibumu,” ucap Korie.
”Mereka pasti berpikir kalau aku bukan berasal dari keluarga baik,” Pahar mafhum.
”Jadi kau tidak tahu ke mana bapamu?” lanjut Korie.
”Yang aku tahu ia hanya pergi ke laut,” tandas Pahar. ”Dan tidak pernah kembali.”
Percakapan itu pun terpotong. Mereka berpisah. Akan tetapi, perpisahan itu menggerakkan hati Pahar untuk pergi ke laut. Karena –seperti yang acap kali orang-orang kampungnya katakan– di lautlah segala jawaban disediakan.
***
Ombak menyeretnya dengan begitu kasar, ganas, serta bengis. Pahar tak berusaha melawan arus laut Lamalera. Ia hanya berupaya untuk mengarahkan kapal kecilnya agar tak terbalik. Di tengah hamparan biru lautan, lengkung langit yang mencangkupi kepalanya, dan ombak ganas, Pahar terkenang bapa saat memancing dahulu...
Hampir setiap Jumat atau Sabtu, Pahar selalu diajak bapa memancing. Mereka biasanya akan pergi ke pinggiran laut dengan kapal kecil milik kakeknya.
”Ketika kau berada di tengah laut,” kata bapa. ”Jangan pernah kau menganggap dirimu hebat. Kau begitu kecil di sini. Laut bahkan bisa menelanmu.”

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
