Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 16 Maret 2025 | 10.30 WIB

Tarung Laut

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

”Oh, tidak, Paman!” Korie segera menimpali. ”Pahar hanya menemuiku untuk memberikanku kalung kerang.”

Pamannya tersenyum. Pria itu kenal Pahar karena beberapa kali berpapasan dengannya di naje. Paman Korie bercerita kalau Pahar adalah pria tekun dan giat. Ia sangat jarang meninggalkan pekerjaannya karena ajakan yang tak penting. Ia juga tak pernah meminum sagure. Demikianlah karena cerita itu, Korie akhirnya memberikan kesempatan kepada Pahar.

”Datanglah kau dan bapamu ke rumah,” tandas Korie. ”Biarkan keluargaku mengenal keluargamu terlebih dahulu.”

”Apakah itu tak berlebihan?” Pahar ragu. ”Karena…”

”Tidak,” Korie menimpali. ”Justru biar keluarga kita dahulu. Setelah itu baru kita.”

Pahar mengangguk kuyu dan pulang dengan hati berat. Ia tak berpikir akan sejauh itu Korie memintanya. Esok harinya, Pahar datang ke rumah Korie hanya dengan ibunya. Keluarga Korie pun sedikit tersinggung dengan hal itu. Apalagi setelah tahu bahwa Pahar sudah lama ditinggal oleh bapanya. Demikianlah setelah pertemuan itu, Korie dan Pahar kembali bertemu. Kini mereka membuat janji di gripe.

”Keluargaku tak suka kau datang hanya dengan ibumu,” ucap Korie.

”Mereka pasti berpikir kalau aku bukan berasal dari keluarga baik,” Pahar mafhum.

”Jadi kau tidak tahu ke mana bapamu?” lanjut Korie.

”Yang aku tahu ia hanya pergi ke laut,” tandas Pahar. ”Dan tidak pernah kembali.”

Percakapan itu pun terpotong. Mereka berpisah. Akan tetapi, perpisahan itu menggerakkan hati Pahar untuk pergi ke laut. Karena –seperti yang acap kali orang-orang kampungnya katakan– di lautlah segala jawaban disediakan.

***

Ombak menyeretnya dengan begitu kasar, ganas, serta bengis. Pahar tak berusaha melawan arus laut Lamalera. Ia hanya berupaya untuk mengarahkan kapal kecilnya agar tak terbalik. Di tengah hamparan biru lautan, lengkung langit yang mencangkupi kepalanya, dan ombak ganas, Pahar terkenang bapa saat memancing dahulu...

Hampir setiap Jumat atau Sabtu, Pahar selalu diajak bapa memancing. Mereka biasanya akan pergi ke pinggiran laut dengan kapal kecil milik kakeknya.

”Ketika kau berada di tengah laut,” kata bapa. ”Jangan pernah kau menganggap dirimu hebat. Kau begitu kecil di sini. Laut bahkan bisa menelanmu.”

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore