Sebenarnya aku ingin sekali menceritakan peristiwa itu pada ayah, tapi aku khawatir ayah akan membunuh ibuku sehingga aku menutup mulut. Selain itu, dalam setiap kesempatan ibu juga akan selalu mewanti-wanti agar aku tidak memberi tahu ayah.
Hingga tibalah hari yang tak terhindarkan itu! Aku terbangun oleh suara kentongan bertalu-talu dan para tetangga yang berisik di depan rumah. Aku turun dari lincak, lalu mencari ibu di kamarnya. Kosong! Hanya si kecil Wonara yang bergerak-gerak di ayunan bambu. Aku pun beranjak keluar, membaur ke tengah kerumunan orang-orang, yang tengah berbicara dengan raut wajah tegang. Dari pembicaraan mereka aku mengetahui jika ibuku dan Samun tertangkap basah sedang bermesraan di dermaga. Karena ketahuan, mereka pun kabur menggunakan perahu motor.
Ayahku telah berusaha mencari mereka ke mana-mana, tapi tak ketemu. Karena tak dapat melampiaskan dendamnya, ayah pun mengalami guncangan jiwa yang sangat kuat hingga akhirnya menghabisi hidupnya sendiri dengan cara gantung diri di Gudang Ikan milik koperasi.
Mendapat kabar dari sosmed bahwa ayahku telah meninggal, Samun pun kembali ke kampung dengan penuh rasa percaya diri. Tapi tanpa ibuku. Saat ditanya tentang keberadaan ibuku, Samun memberikan keterangan yang berbelit-belit serta berubah-ubah, tergantung orang yang bertanya, hingga beredarlah informasi yang simpang siur. Kadang, ia mengatakan, ibuku jadi TKW di Korea. Tapi, pada saat yang lain, Samun akan mengatakan ibuku bekerja di pabrik atau jadi tukang masak di restoran. Tetapi, dari setumpuk informasi simpang siur yang ditebar Samun itu, yang membuat keluarga kami sangat sakit hati adalah cerita yang beredar di kedai tuak dan kabar tersebut cukup masuk akal. Konon, Samun telah menjual ibuku pada seorang muncikari dan sekarang jadi pelacur di pinggir rel kereta api.
Tindakan Samun yang semena-mena itu telah mengipas api kemarahan di dada keluarga kami, baik dari pihak ibu maupun ayah. Oleh sebab itu, dua atau tiga tahun kemudian, warga menemukan mayat Samun membusuk di bawah gumuk pasir di pesisir.
’’Tulang Samun, ya…, tulang Samun! Bajingan keparat itu!” gumamku seraya mengepalkan tinju. Kendati tidak sempat membalas dendam ketika dia masih hidup, setelah mati pun tidak mengapa, yang penting balas dendam, dengan menjadikan tulangnya sebagai kayu bakar untuk memasak ubi.
Senja belum magrib, tapi halaman kuil sudah tampak remang. Pohon-pohonnya yang tinggi dan rimbun menutupi langit menyebabkan halaman kuil lebih cepat terlihat gelap. Deretan sarkofagus tampak samar-samar di antara pohon jati dan kayu putih. Di hari-hari biasa jarang orang yang datang ke kuil, kecuali saat mengantar tulang-belulang dari lereng bukit untuk disemayamkan di sarkofagus. Setiap orang yang meninggal dunia di tempat kami terlebih dahulu akan diletakkan pada sebuah ceruk di tebing bukit agar dimangsa oleh burung gagak dan rajawali. Setelah tinggal tulang-belulang baru dibawa turun ke Kuil Tengkorak untuk disemayamkan di sarkofagus keluarga.
Saat memasuki gerbang kuil berlumut yang meruapkan aroma getah pohon dan jamur busuk itu, aku memergoki seekor ular melilit pohon kopi. Dari bawah pohon cempedak, aku berjalan lurus sekitar seratus meter ke barat sampai ke ujung tembok bata. Di situlah kerangka tulang-belulang Samun disemayamkan. Aku berhenti persis di atas kepalanya di ujung sarkofagus yang berhias kepala burung hantu. Tanpa berpikir panjang, aku langsung membuka tutupnya yang terbuat dari lempengan batu paras. Setelah mengamati kerangka tulang itu dari tengkorak kepala sampai kaki, aku berjongkok, lalu memilah-milah beberapa potong tulang yang bentuknya memanjang dan cocok untuk dijadikan kayu bakar, kemudian memasukkannya ke dalam karung. Sebelum menutup kembali sarkofagus itu, tak lupa aku meludahi dan mengencingi rongga matanya yang bolong, lalu menutupnya dengan cara setengah membanting, hingga menimbulkan bunyi berdebam yang cukup keras.
Usai melampiaskan kemarahanku pada tengkorak terkutuk itu, dadaku terasa plong hingga aku melangkah ringan meninggalkan halaman kuil. Saat hendak keluar dari gapura berlumut itu, seekor burung bercericit di atas kepala. Orang-orang menyebutnya burung maling. Aku terus melangkah menuruni undakan yang licin.
Di dapur, sewaktu memasukkan beberapa potong tulang ke rongga tungku, saat hendak menyulutnya, sebuah tangan mencegahku, ’’Jangan…!” sergahnya. ’’Aku mencintainya.”
Aku menengok ke belakang: Ibuku.
Wonara yang duduk di sebelahku sibuk mengunyah ubi mentah, tidak peduli dengan kehadiran ibu. Hati bocah perempuan itu sudah telanjur terluka! (*)
---
*) Adam Gottar Parra berdomisili di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Cerpen-cerpennya terbit di sejumlah media massa.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
