
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
Ketika bom meremukkan Gaza menjelang pembukaan Piala Dunia U-17 di Surabaya, aku justru dikirim ke Pulau Kyushu untuk liputan. Rasanya tak perlu aku ceritakan mengenai hari-hari liputanku di Kota Kitakyushu. Sebab, itu tidak penting dan tidak menarik. Yang penting dan menarik justru pertemuanku dengan perempuan di penginapan.
MALAM hari, kira-kira selepas isya, aku diantar sopir dan penerjemah menggunakan sedan ke penginapan di Kokura. Di lobi penginapan, aku disambut petugas penginapan yang sedang duduk di sebuah kursi, di depannya ada secangkir kopi yang teronggok di atas meja. Laki-laki berhidung runcing itu menyapaku. Tentu saja aku tak paham dengan kalimat sapaannya yang seluruhnya menggunakan bahasa Jepang. Yang kutahu hanya kata ’’konbanwa’’ darinya.
”Saya lelah, ingin segera masuk kamar,” kataku kepadanya menggunakan bahasa Indonesia. Dia paham dengan kalimatku atau tidak, itu bukan urusanku.
Selepas mandi, aku membuka buku kecil, membaca coretan hasil liputanku sebelum mengetiknya di laptop. Coretan itu adalah hasil wawancara dengan sejumlah narasumber yang kutemui hari ini, di antaranya adalah wali kota Kitakyushu. Tapi, rasanya aku masih malas untuk mengetiknya menjadi naskah berita. Nanti sajalah, toh naskah ini untuk terbitan lusa.
Roti daging sapi, yang selalu tersedia di atas meja kamar penginapan, aku sikat habis. Padahal, perutku tidak lapar-lapar amat. Tadi sebelum ke penginapan, sopir dan penerjemah membawaku mampir makan mi di dekat kastil. Lantaran bingung mau berbuat apa, akhirnya aku keluar kamar. Mengelilingi sepertiga luas penginapan, lalu sampailah aku pada tepian kolam. Aku kaget, ada perempuan putih-cerah menatapku tajam dengan matanya yang indah.
”Hei, Yasunari Kawabata! Sudah lama menginap di sini?” Sapanya sok akrab menggunakan bahasa Inggris. Lalu, dia mendekat ke arahku. Sepersekian detik barulah aku paham mengapa dia memanggilku dengan sebutan ”Yasunari Kawabata’’. Itu karena aku memakai kaus hitam bergambar Yasunari Kawabata.
”Akhirnya ada orang yang mengajakku bicara dengan bahasa Inggris,” balasku.
”Sudah lama menginap di sini?” ulangnya.
”Seingatku baru dua atau tiga hari.”
”Hah? Seingatku?” Tanyanya sembari mendekat ke sebelah kananku.
”Iya!”
Kemudian, dia meledakkan tawa. Sangat nyaring dan lumayan lama. Tawa itu membuat tubuhnya berguncang. Bahkan, lengannya sedikit menyentuh lenganku. Kurasakan kulitnya sangat halus. Aku meliriknya untuk memastikan kadar kehalusan kulitnya. Dan, tanpa menyentuh, benar saja; betis, dengkul, lengan, leher, dan wajah, semuanya halus.
”Kamu dari Kuala Lumpur?”
”Bukan. Aku dari Surabaya.”

BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Pembagian Grup Liga 2 2026/2027 Berubah, PSIS Semarang dan Persiku Kudus Geser ke Wilayah Barat
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
PP Muhammadiyah Minta MBG Dihentikan Sementara, Sebut Mudaratnya Lebih Banyak
Momen Republik Ceko dan Afrika Selatan Harus Puas Bermain Imbang 1-1
