Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 8 Desember 2024 | 17.10 WIB

Kulihat Bulan seperti Es Krim Vanila

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Ketika bom meremukkan Gaza menjelang pembukaan Piala Dunia U-17 di Surabaya, aku justru dikirim ke Pulau Kyushu untuk liputan. Rasanya tak perlu aku ceritakan mengenai hari-hari liputanku di Kota Kitakyushu. Sebab, itu tidak penting dan tidak menarik. Yang penting dan menarik justru pertemuanku dengan perempuan di penginapan.

MALAM hari, kira-kira selepas isya, aku diantar sopir dan penerjemah menggunakan sedan ke penginapan di Kokura. Di lobi penginapan, aku disambut petugas penginapan yang sedang duduk di sebuah kursi, di depannya ada secangkir kopi yang teronggok di atas meja. Laki-laki berhidung runcing itu menyapaku. Tentu saja aku tak paham dengan kalimat sapaannya yang seluruhnya menggunakan bahasa Jepang. Yang kutahu hanya kata ’’konbanwa’’ darinya.

”Saya lelah, ingin segera masuk kamar,” kataku kepadanya menggunakan bahasa Indonesia. Dia paham dengan kalimatku atau tidak, itu bukan urusanku.

Selepas mandi, aku membuka buku kecil, membaca coretan hasil liputanku sebelum mengetiknya di laptop. Coretan itu adalah hasil wawancara dengan sejumlah narasumber yang kutemui hari ini, di antaranya adalah wali kota Kitakyushu. Tapi, rasanya aku masih malas untuk mengetiknya menjadi naskah berita. Nanti sajalah, toh naskah ini untuk terbitan lusa.

Roti daging sapi, yang selalu tersedia di atas meja kamar penginapan, aku sikat habis. Padahal, perutku tidak lapar-lapar amat. Tadi sebelum ke penginapan, sopir dan penerjemah membawaku mampir makan mi di dekat kastil. Lantaran bingung mau berbuat apa, akhirnya aku keluar kamar. Mengelilingi sepertiga luas penginapan, lalu sampailah aku pada tepian kolam. Aku kaget, ada perempuan putih-cerah menatapku tajam dengan matanya yang indah.

”Hei, Yasunari Kawabata! Sudah lama menginap di sini?” Sapanya sok akrab menggunakan bahasa Inggris. Lalu, dia mendekat ke arahku. Sepersekian detik barulah aku paham mengapa dia memanggilku dengan sebutan ”Yasunari Kawabata’’. Itu karena aku memakai kaus hitam bergambar Yasunari Kawabata.

”Akhirnya ada orang yang mengajakku bicara dengan bahasa Inggris,” balasku.

”Sudah lama menginap di sini?” ulangnya.

”Seingatku baru dua atau tiga hari.”

”Hah? Seingatku?” Tanyanya sembari mendekat ke sebelah kananku.

”Iya!”

Kemudian, dia meledakkan tawa. Sangat nyaring dan lumayan lama. Tawa itu membuat tubuhnya berguncang. Bahkan, lengannya sedikit menyentuh lenganku. Kurasakan kulitnya sangat halus. Aku meliriknya untuk memastikan kadar kehalusan kulitnya. Dan, tanpa menyentuh, benar saja; betis, dengkul, lengan, leher, dan wajah, semuanya halus.

”Kamu dari Kuala Lumpur?”

”Bukan. Aku dari Surabaya.”

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore