Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 16 Juni 2026 | 20.25 WIB

ICRC: Ribuan Jenazah Warga Palestina Korban Perang di Gaza yang Tertimbun Reruntuhan Berisiko Tak Teridentifikasi

Pekerja menyiapkan makam di Deir al-Balah, Gaza, untuk jenazah tak dikenal yang ditemukan di tengah reruntuhan perang (The Guardian) - Image

Pekerja menyiapkan makam di Deir al-Balah, Gaza, untuk jenazah tak dikenal yang ditemukan di tengah reruntuhan perang (The Guardian)

JawaPos.com - Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza memasuki babak yang semakin kompleks. Di tengah upaya pemulihan pascagencatan senjata, ribuan jenazah yang diperkirakan masih terkubur di bawah puing-puing bangunan menghadapi risiko tidak pernah berhasil diidentifikasi. 

Kondisi tersebut tidak hanya mengancam hak keluarga untuk mengetahui nasib kerabat mereka, tetapi juga menimbulkan tantangan besar bagi proses forensik dan kesehatan masyarakat di wilayah itu.

Masalah tersebut muncul seiring lambatnya proses evakuasi korban dari reruntuhan akibat keterbatasan alat berat dan akses ke lokasi terdampak. Selain itu, waktu yang terus berlalu memperbesar kemungkinan jenazah mengalami pembusukan lanjut hingga tinggal kerangka, sehingga menyulitkan proses identifikasi.

Dilansir dari The Guardian, Selasa (16/6/2026), Komite Internasional Palang Merah (International Committee of the Red Cross/ICRC) memperingatkan bahwa peluang mengidentifikasi ribuan warga Palestina yang masih tertimbun reruntuhan Gaza terus menyusut setiap hari. 

Juru bicara ICRC di Yerusalem, Pat Griffiths, mengatakan, "Tidak diragukan lagi bahwa jenazah-jenazah ini dalam waktu dekat dapat menjadi sangat sulit diidentifikasi. Semakin lama jasad berada di bawah reruntuhan, semakin besar kemungkinan kondisinya telah membusuk berat, bahkan hanya menyisakan kerangka saat ditemukan."

Menurut Griffiths, keterlambatan pemulihan jenazah juga membuat para ahli forensik kehilangan berbagai bukti penting yang dapat membantu memastikan identitas korban. Selain kondisi fisik jenazah yang terus berubah, petunjuk lain seperti lokasi penemuan, barang pribadi, maupun keadaan di sekitar korban dapat hilang atau rusak akibat faktor lingkungan maupun aktivitas di lapangan.

Sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat mulai berlaku pada Oktober lalu, warga Palestina mulai membersihkan sekitar 61 juta ton puing bangunan di Gaza. Di bawah reruntuhan tersebut, otoritas kesehatan setempat memperkirakan sedikitnya 10.000 orang masih terkubur, sementara sebagian pakar memperkirakan jumlahnya dapat mencapai 14.000 korban. 

Namun, tim penyelamat hingga kini sebagian besar hanya mengandalkan sekop, beliung, gerobak dorong, garpu tanah, cangkul, bahkan tangan kosong untuk melakukan pencarian. Berulang kali permintaan agar alat berat seperti ekskavator diizinkan masuk ke Gaza belum membuahkan hasil.

ICRC menilai akses terhadap alat berat sangat penting untuk mempercepat pencarian sekaligus menjaga integritas lokasi penemuan jenazah. Griffiths mengatakan, "Tim pencarian dan pemulihan membutuhkan akses ke seluruh lokasi yang diduga menyimpan jenazah manusia. Kami mengetahui bahwa sebagian besar peralatan tersebut masih hampir mustahil dibawa masuk ke Gaza saat ini, dan kami terus mendesak otoritas terkait agar mengizinkannya."

Para ahli forensik juga mengingatkan bahwa waktu merupakan musuh utama dalam proses identifikasi. Guru Besar Patologi Forensik Universitas Milan, Dr Cristina Cattaneo, menjelaskan, "Semakin banyak waktu berlalu, semakin kecil peluang identifikasi berhasil. Pada tahap awal, wajah dan ciri khas korban mungkin masih dikenali. Namun seiring waktu, karakteristik yang memungkinkan identifikasi yang andal perlahan menghilang."

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore