
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
”Jangan bicara kotor. Siapa sundal itu?”
”Diam, jangan bicara,” kata ayahnya berbisik pada Kromo dengan muka memerah, seolah dirinyalah yang akan melawan ibunya. ”Biarkan saja… Ibumu itu lebih berkuasa dari Ratu Wilhelmina. Kita pergi.” Ayahnya segera mendorongnya keluar rumah.
***
Sepanjang jalan, di bawah langit yang bercahaya dan panas, tangan ayahnya melambai pada konvoi truk militer yang lewat sambil menyanyikan Wilhelmus dengan sikap tegak. Ayahnya adalah mantan pejabat di kantor Posts Telegraafend Telefoon Dienst di masa kolonial, sangat membenci setengah mati pada Jepang dan sekaligus republik yang baru berdiri. Setelah itu, kebenciannya beralih pada para pejuang muda, termasuk dua anaknya yang tak mendukungnya. Baginya, pemerintah kolonial Belanda lebih berarti karena telah memberinya kedudukan. Usia ayahnya saat itu sudah mencapai enam puluh lima tahun dan itu membuat wataknya yang kaku semakin keras. Di pasar yang suram dan gelisah oleh bayang-bayang perang, ayahnya makan dengan lahap diliputi rasa bahagia.
”Makan daging babimu,” kata ayahnya ketika melihatnya menyingkirkannya ke pinggir piring.
”Ya sudah, sini biar Bapak yang makan,” lanjutnya sambil mencomot potongan tebal daging babi dari piring Kromo dan menggeser sisanya di piring yang lain.
”Mau daging orang Jepang?” tanya ayahnya. ”Rasanya kurang enak, tapi lebih enak dari daging pribumi.”
Mata Kromo membelalak mendengar ayahnya bicara seperti kanibal yang seolah pernah merasakan daging orang Jepang. Perutnya tiba-tiba merasa mual. Ayahnya melihatnya, kemudian tertawa. Candaan simbolik itu membuatnya jijik. Semasa pendudukan Jepang, secara ajaib ayahnya bahkan tak pernah tersentuh oleh Si-Coo dan militer Jepang, meskipun mereka tahu dia satu-satunya mantan pejabat Posts Telegraafend Telefoon Dienst yang pribumi. Meskipun begitu, tetap saja dia membenci, bahkan keadaan yang aman itu dianggapnya sebagai kelemahan Jepang.
”Huek, dasar babi kate,” ayahnya mengumpat ketika sebuah mobil militer Jepang melewati rumahnya.
***
Kromo tak senekat dua kakaknya yang menentang ayahnya secara terbuka. Tapi, dia tak ingin mendukung siapa pun dan tak mau bergabung di antara mereka, bahkan Tentara Pelajar. Dua kakaknya bergabung dengan para pejuang sejak awal dan menjadi bagian dari dua partai yang saling benci, tapi sepakat menentang ayahnya sebagai musuh bersama. Ayahnya seolah tak peduli dan tak pernah mau mengubah sikap dan pandangan hidupnya. Dia membenci pemerintahan Soekarno dan siapa saja yang ada di republik, termasuk anaknya sendiri.
”Kemerdekaan itu,” kata ayahnya, ”tergantung bagaimana manusia mendapatkan keuntungan dari kekuasaan yang didapatkan. Tidak peduli siapa yang memerintah, selama mereka berbagi kesenangan harus didukung. Karena itu berarti kemerdekaan sebagai manusia. Rakyat kecil tetap saja orang kecil yang harus menerima keadaannya. Tidak akan pernah merdeka dan menjadi mangsa siapa yang berkuasa. Itu adalah hukum alam.”
Tapi, apa yang dia maksud sebenarnya adalah menerima kekuasaan koloni Belanda. Dia berharap semua perjanjian yang berlangsung bisa mengembalikan kekuasaan Ratu Wilhelmina yang dipujanya.
”Jangan pernah mengikuti mereka,” kata ayahnya. ”Prapto dan Pranala, pikirannya pendek.”
***

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Kasus Korupsi Sritex, Mantan Dirut Bank Jateng Dituntut 10 Tahun
Sisa 6 Laga Tersisa, Ini Jadwal Persib, Borneo FC, dan Persija di Super League! Siapa yang Jadi Juara
