Logo JawaPos
Author avatar - Image
13 Oktober 2024, 15.50 WIB

Paspor

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Sudah hampir sebulan aku di perantauan. Lima hari lagi aku harus pulang ke kampung halaman.

PERASAANKU berkecamuk. Di satu sisi aku kangen pada tanah air tercinta yang alamnya konon kaya raya dan indah permai. Aku rindu makanan kesukaanku yang tak ada di sini: nasi pecel, rujak cingur, tongseng kambing. Namun, di sisi lain menyelusup sebersit perasaan enggan pulang. Dan perasaan itu kian lama kian kuat.

Orang bilang lebih baik hujan batu di negeri sendiri ketimbang hujan emas di negeri orang. Tetapi, bagiku itu hanya omong kosong orang yang tak pernah merasakan kesulitan hidup. Tentu saja lebih baik mendapat hujan emas di luar negeri daripada menjadi cacing melata di tanah air sendiri.

Nasib mujur membawaku terbang ke sini. Aku ditugaskan sebagai asisten Pak Lurah untuk melakukan studi banding pembangunan berkelanjutan di pinggiran kota di negeri asing ini selama sebulan atas biaya sebuah yayasan sosial yang memiliki cita-cita mulia untuk kemakmuran dunia. Desa kami dipilih sebab dianggap berhasil menggali potensi swadaya desa dan bangkit dari kemiskinan.

Kubilang mujur sebab tadinya bukan aku yang mendapatkan rezeki ini. Semula yang akan berangkat adalah Srimulat, staf khusus Pak Lurah yang genit dan suka menjilat. Namun, Bu Lurah murka dan memprotes rencana itu karena cemburu. Akibatnya, Srimulat batal berangkat.

Posisinya lalu digantikan Mas Gibran, kemenakan Bu Lurah yang menjadi staf di kantor desa. Tetapi, enam minggu sebelum berangkat, dia terkena penyakit lumpuh sebelah. Ada yang bilang itu karena guna-guna.

Orang-orang bergujirat bahwa itu penyakit kiriman Srimulat. Aku tak tahu pasti. Yang kutahu, aku ketiban pulung menggantikan Mas Gibran berangkat ke Jerman.

Aku dipilih karena aku bisa sedikit bahasa Inggris meskipun prestasiku biasa-biasa saja sebagai pegawai kecil di kantor desa. Dengan begitu, aku bisa membantu Pak Lurah yang pandai berbicara dan meyakinkan orang, tetapi tidak menguasai bahasa asing. Aku bersyukur pernah kuliah sastra Inggris meski hanya sampai semester lima lalu terpaksa berhenti karena tak sanggup lagi membayar uang kuliah yang mahal. Untunglah, nasib masih mengasihaniku sehingga aku bisa bekerja di kantor desa.

Di Jerman aku bisa hidup tenang biarpun apa-apa serbamahal. Kebutuhanku tercukupi. Bahkan, aku bisa menabung sedikit-sedikit dengan menyisihkan uang saku. Kerjaku ringan, hanya menemani dan menjadi penerjemah Pak Lurah saat menghadiri seminar atau mengunjungi kantor-kantor pemerintah, LSM, dan desa-desa percontohan yang berhasil mengembangkan ekonomi dan teknologi berwawasan ekologis. Jauh dari kehidupanku di kampung yang serbasulit dan dikejar-kejar penagih utang pinjol yang sadis.

Gara-gara setan pinjol keparat itu aku ditinggalkan istriku yang tak tahan dengan teror para penagih utang dan gunjingan tetangga. Dia membawa anak perempuan kami satu-satunya yang baru berumur sembilan tahun. Tiga bulan lalu mereka pindah ke rumah mertuaku di kampung sebelah. Sejak awal mereka tak menyetujui anaknya mengawiniku yang dianggap bermasa depan suram karena berasal dari keluarga miskin dan bergaji pas-pasan.

Ya, harus kuakui sejujurnya aku memang bersalah. Aku kecanduan judi dan akhirnya terseret lingkaran setan pinjol. Awalnya judi online itu mengasyikkan. Semacam kesenangan kecil rakyat jelata di tengah kebosanan dan kesulitan hidup. Serupa permainan pengisi waktu senggang yang menjanjikan harapan dan keuntungan. Setelah pada awalnya kerap mendapat kemenangan kecil, aku lalu mengalami kekalahan demi kekalahan yang justru bikin makin penasaran. Aku terpaksa mulai berutang kiri-kanan untuk mendapatkan uang depo buat taruhan judol.

Lama-kelamaan aku terjerat pinjol yang bunganya makin membengkak dan tak terkejar. Gajiku yang tak seberapa tersedot untuk membayar utang yang tak kunjung lunas. Ujungnya, kacaulah rumah tanggaku yang sebelumnya memang sudah goyah.

Aku enggan meninggalkan kehidupan yang nyaman di rantau untuk kembali pada kenyataan hidup di kampung yang rungkad. Meski jika aku melarikan diri hidupku belum tentu bahagia selamanya, setidak-tidaknya aku tak akan lagi dikejar-kejar oleh setan pinjol dan para bedebah debt collector yang bengis.

Namun, bagaimana caranya agar aku bisa tetap tinggal di sini? Apakah tidak berbahaya jika aku melarikan diri? Bagaimana jika aku tak bisa pulang ke tanah air seumur hidup? Bagaimana jika aku berakhir menjadi gelandangan kotor dan bau badan seperti orang-orang menyedihkan yang kerap kulihat kelayapan di sekitar taman dan halte bus di Bismarckplatz? Bagaimana jika aku sampai hidup keleleran sebagai pelarian dan mati kedinginan di musim salju?

Ah, tapi terkadang kupikir mati masih lebih baik ketimbang hidup susah seumur-umur dikejar utang!

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore