Logo JawaPos
Author avatar - Image
29 September 2024, 17.57 WIB

Tukar Guling

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Sampir jarit dipadu kebaya putih bertabur payet mengilap yang membalut tubuhmu membuatku ragu, benarkah kau putriku yang pernah kubebat tubuh kecilnya dengan handuk sehabis mandi? Sudah sebesar inikah?

Make-up tebal, bibir mungil dalam lukisan lipstik merah bawang, lengkung alis, polesan pewarna, menutupi keaslian wajahmu. Bunga karmelok di samping kanan-kiri sunggar, rumbai kembang semata kaki, tujuh cunduk melati dan cunduk mentul yang menghiasi kepalamu, sungguh asing di mataku.

Kepalamu dulu masih seukuran kelapa gading muda, berambut sepunggung dan sehalus sutra kecokelatan. Kadang kukepang berhias pita. Kadang kuikat dua dengan tali karet berwarna. Itulah yang selama ini melekat dalam ingatanku.

Matamu yang lebar berbulu palsu dan lebat itu, bertahun-tahun lalu, masih sejernih air sumur yang baru ditimba di subuh hari. Mata bening yang mendadak beriak ketakutan, suatu malam, begitu melihat semburan darah di lantai, membercak di meja dan kursi, berlumuran di bajuku, bahkan memerahi kedua tanganku.

18 tahun, atau mungkin 19 tahun yang lalu, lebih tepatnya ketika usiamu menginjak genap 3 tahun, kaki mungilmu gemetar mendapati ruang tamu memerah dan pecahan gelas dan ampas kopi berserakan di mana-mana. Segera kuraih tubuhmu ke dalam pelukan. Membenamkan wajahmu ke dada agar tidak melihat sosok yang terkapar di lantai dengan lubang tusuk bagian perut dan terus menyembur darah segar mengental.

”Embu’....” isakmu tertahan. Bergetar ketakutan.

Tanganku ikut menggigil mendekap tubuh kecilmu. Segigil sekarang, ketika melihat tangan dan jemarimu yang berhias hena putih tempel bermotif manik-gliter, menggenggam buket mawar bercampur rumput artifisial nanas menik, berdiri anggun di depanku dengan tatapan asing. Tak mengenaliku.

”Bibi mencari siapa?”

Bibi?

Aku tergagap. Mulutku ternganga, mengatup, menganga lagi, bergumam tak jelas. Keraguan menyergapku. Pertanyaanmu mempertegas kehadiranku sebagai tamu tak diundang. Atau, mungkin juga tak diharapkan. Bahkan tidak ada yang mengenaliku sejak tadi. Semua orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing dalam mempersiapkan acara.

Bibimu dan suaminya tidak tahu mengenai kepulanganku kali ini, dan aku belum bertemu dengan mereka. Gadis remaja yang kutanyai di mana kau berada hanya menunjukkan kamarmu, kemudian berlalu dengan tergesa.

Kuremas tali tas berisi pakaian yang kujinjing sejak tadi. Mungkin seharusnya aku tidak hadir. Mungkin seharusnya aku tidak ke sini. Akan tetapi, kabar pernikahanmu membuat kerinduanku seperti hujan. Semakin lama semakin deras dan menyebabkan banjir bandang, hingga pertahananku tumbang.

Dulu, selepas dari sel jeruji, kuputuskan untuk tak kembali ke kampung halaman demi menyelamatkan kakek-nenekmu, agar tak lagi menanggung cemoohan dan hinaan sebab memiliki anak pembunuh, sebagaimana tahi kering disiram air hujan. Pun, kutekadkan untuk tidak mengunjungimu dan memilih merantau ke negeri seberang demi mengubur kenangan.

”Setidaknya, kau lihatlah anakmu sekali saja!”

Bibimu, kakak perempuanku satu-satunya yang menyambut kebebasanku di gerbang waktu itu, memaksaku mumpung belum ada jadwal keberangkatan.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore