
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
”Meskipun kamu dilahirkan sebagai mangkuk pengemis sekalipun, kalau itu bisa membuatmu gembira, orang-orang dan para versis tidak bisa berbuat apa-apa, selain mengganggumu.” Ah, aku teringat ucapan Profesor Antelove pada pertama aku ditunjuknya menulis kisah hidupnya sepuluh tahun yang lalu. ”Sebagai penulis, kau bisa hidup bahagia apabila kau menghargai yang wajib: diri sendiri. Kamu bukan seorang filantropis. Kamu juga bukan freegan yang menganggap sayur sebagai hasil pertanian di surga dan hewan sebagai sumber kemiskinan bangsa. Jadi, tidak usah banyak gaya dan pencitraan. Dengar,” profesor memberi jeda, ”meskipun kamu penulis produktif, meskipun kamu … ah apa pun itu, bahagia atau sedih atau frustrasi adalah domainnya dirimu. Kamu yang buat sekaligus kontrol sendiri.”
Notifikasi berdentang di ujung telinga kananku. Di sana, udara menjelma layar tembus pandang. Badan Kesehatan Sibernetika telah menunjuk dokter untuk memeriksaku. Aku diminta menjawab pertanyaan yang kesemuanya bisa kujawab. Yang kesemuanya tidak sedikit pun mengarah pada simpulan bahwa aku adalah mesin. ”Berikutnya, asistenku yang akan mengurusmu.”
Tak sampai dua menit, suara perempuan humanoid di layar terdengar tegas. ”Kami akan mengonfirmasi semua jawaban Anda dengan Profesor Antelove,” terangnya.
”Buat apa? Dia mengklaim membuatku robot. Dia menjadikanku model eksperimennya. Dia …”
”Kalau Anda tahu begitu, Anda sudah tahu kalau Anda robot, bukan?” sindirnya dasar humanoid sok berkuasa!
”Tetap masih ada peluang kalau profesor berbohong.”
”Kita berurusan dengan hasil asesmen, bukan perasaan,” tegas si asisten. ”Sertifikat penerbitan Jamlock 8.9 atas nama Fillia Killick ditandatangani oleh Profesor Antelove Sumargo. Anda paham sekarang?”
”Tidak mungkin.”
”Hati-hati kalau bicara,” nada suaranya makin tegas dan tajam. ”Kecuali Anda mau melawan Konsorsium Versis.”
”Aku akan melapor ke negara. Aku bukan budak konsorsium.”
”Kamu robot. Bukan budak. Spesimenmu sama persis dengan Januarisme, robot asistenmu.”
Gila! ”Kamu pasti tidak membaca Karl Capek!”
”Kami membaca Cadmus. Bukan dramawan Ceko itu.”
”Robot artinya budak.”
”Anda mau menjadikan Rossum’s Universal Robots-nya Capek sebagai pleidoi? Maaf, negara maupun konsorsium tidak memasukkan R.U. R. ke daftar bacaan penduduknya.”

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
