Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 28 April 2024 | 16.14 WIB

Lelaki Bercelana Joger

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Oleh: HASBUNALLAH HARIS

---

Nu’ai baru saja melepas capit cas aki setrum ikannya saat lelaki bercelana joger itu datang. Dia menawarkan pekerjaan; membersihkan bak PDAM di Bangko, tak berapa jauh dari rumah mereka yang uzur dan doyong. Tanpa pikir panjang, niat yang semula hendak pergi mengarit kambing bujang di belakang rumah diurungkan demi mendengar PDAM disebut-sebut, siapa yang tidak akan tergiur dengan uang dua ratus ribu, cash, kerja setengah hari di musim payah macam sekarang?

”Aku akan mengganti baju sebentar, tunggulah dulu,” ujar Nu’ai menyilakan lelaki itu duduk di beranda rumah. Sepasang anjing pemburunya kemarin baru saja melahirkan. Anjing yang betina sejak tadi mengawasi tamu yang datang, kadang mengedipkan mata dengan cemas, kadang melolong-lolong macam pungguk merindukan bulan.

Bak PDAM itu memang sudah lama tidak dibersihkan. Terakhir keduanya dapat panggilan sekitar dua bulan lalu sebelum Ramadan masuk. Orang-orang tentu saja menginginkan air terus mengalir jernih tanpa hambatan. Pekerjaan membersihkan bak meski berat namun dibayar dengan harga yang lumayan. Keduanya sudah menekuni pekerjaan lepas itu sejak beberapa tahun silam. Nu’ai, sebagai lelaki beranak satu yang menumpang tinggal di rumah bekas mertuanya yang sudah almarhum, pun tak urung merasakan gejolak lonjakan bahan pokok yang demikian cepat, ditambah lagi dengan Lebaran yang akan datang. Kepalanya pusing memikirkan uang belanja anak dan bininya. Dirinya? Oh tentu saja tidak, sudah dua tahun dia masih memakai baju koko lengan panjang yang sama, meski kini warnanya sudah sedikit memudar karena terlalu sering dicuci.

Sehabis menukar baju, dia pamit pada istrinya yang sedang membadung Amira, anak semata wayangnya itu. Perempuan dengan tahi lalat di bawah bibir itu bergetar mengucapkan ”hati-hati”. Perasaannya tidak enak sejak semalam, ditambah lagi pagi tadi saat sahur dia menjatuhkan mangkuk yang akan diletakkan ke atas rak. Pecahan mangkuk itu melukai kakinya sendiri.

”Sebelum sore kami sudah pulang, seperti yang sudah-sudah,” katanya sambil menjangkau topi bundar yang tergantung di belakang pintu dapur. Bininya hanya mengangguk dan mengantar hingga ke pintu depan, lalu kembali masuk untuk melanjutkan pekerjaan setelah dua orang itu hilang di ujung tikungan jalan setapak rumah mereka.

Sejak sama-sama sekolah di SD inpres, Nu’ai memang sudah akrab dengan lelaki bercelana joger itu. Keduanya sudah macam pinang dibelah dua, di mana ada Nu’ai, di sana ada pula dia. Namun jalan hidup memisahkan keduanya beberapa tahun saat Nu’ai mengenyam pendidikan di Kota Pekanbaru, dan kembali bersama setelah dia mengaku kalah di tengah hiruk pikuk kesibukan kota.

”Terlalu gila,” ujarnya bercerita saat mereka menunggu jagung di ladang beberapa tahun silam. ”Hidup di kota itu terlalu selangit, bahkan untuk berak saja harus membayar. Bah, kalau di sini kita tinggal pergi saja ke sungai sana dan berak sesuka hati, pakai air sesuka hari. Di kota semuanya ditakar, semuanya diatur, dan orang-orang serabutanlah yang akan menderita dibuatnya, tak sanggup membayar listrik, terjepit utang, terkangkang-kangkang dikejar rentenir.”

”Begitu?” Lelaki itu semringah mendengarkan. Selama hidungnya ditempuh napas, memang belum sekali pun dia menginjakkan kaki keluar kampung untuk merantau. Hidupnya habis sekadar menanam jagung dan kacang tanah, atau sesekali menanam padi di sawah gadai yang kini sudah terjual pula. Anaknya tiga, dan nasibnya tak jauh beda dengan Nu’ai; sebuah gambaran kemelaratan orang-orang pedesaan yang bertekuk lutut pada kata ”globalisasi”.

”Orang bilang enak tinggal di kota,” lanjut Nu’ai bercerita. ”Bah, mereka belum tahu saja kejamnya orang-orang kota, bahkan sesama tetangga saja tidak saling mengenal. Hidup macam apa itu?”

”Mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing mungkin, Kawan.” Lelaki itu berusaha mengajukan pembelaan.

”Ah, mana mungkin,” timpal Nu’ai lagi, lalu mengambil sebuah lidi enau untuk ditusukkan ke giginya yang jarang. ”Orang-orang kota memang tidak pernah peduli. Mereka membangun tembok yang tinggi untuk memagari rumah, mengisolasi diri, tak mau tahu dengan lingkungan sekitar.”

Dalam hati, lelaki itu sangat bersyukur tak pernah merantau. Dia merasa sudah cukup dengan ladang beberapa petak saja dan hasil yang nyaris sama dari tahun ke tahun, bila musim durian tiba, pemasukan akan bertambah, atau sesekali dia bisa bekerja jadi buruh lepas PDAM, membersihkan bak. Banyak pekerjaan sampingan yang bisa dilakukan dengan modal mau saja, tak perlu ijazah seperti orang-orang kota melamar pekerjaan. Gambaran kota bagi lelaki itu hanyalah sebuah penjara yang sangat memuakkan. Persaingan mencari makan sangat ketat, sementara lahan yang diperebutkan amatlah sempit.

Di Bangko, beberapa orang sudah menanti, sekop dan mesin dompeng, juga genset sudah tersedia. Mereka hanya bekerja seperti sebelum-sebelumnya, mengeluarkan pasir dari bak yang sangat besar. Namun ternyata kini ada yang berubah, genset yang dipakai sekarang kelihatan berbeda dengan sebelumnya. Tampilannya jauh lebih elegan dan rapi. Pun tampak menarik dengan stiker yang ditempel di sana-sini, stiker sebuah partai.

Editor: Ilham Safutra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore