Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 14 April 2024 | 13.20 WIB

Pulang tanpa Kampung Halaman

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Aku selalu melihat binar di kedua matamu setiap kali kau bercerita tentang desamu. Kau selalu bersemangat saat kenakalan masa kecilmu dipergoki Pak Modin, seorang ustad di kampung halamanmu itu. Kenakalan kanak-kanak, kau tertawa perlahan saat menceritakan kenakalan itu.

”Kami dipergoki Pak Modin, minum air padasan saat bersiap salat Asar. Bukan untuk berkumur saat wudu, tapi benar-benar diminum. Dasar kami tak tahan haus setelah lelah menggiring kambing di lapangan desa.” Kau menggelengkan kepala mengingat kenakalan masa kecilmu. ”Oh, kau pun pernah begitu juga! Dulu saat puasa, siang-siang kau sering minum air ledeng!”

Aku hanya mendehem mendengar ucapanmu. Hal itu memang benar, bukan sekadar tuduhan. Namun kemudian rona wajahmu berubah, sorot matamu tak secemerlang sebelumnya. Ada gurat sedih di kedua bola matamu, senyummu tak sebebas tadi, kau terlihat tenggelam dalam rasa duka.

”Di masa-masa itu, almarhumah ibuku sering kali memasak makanan lezat. Ramadan menjadi begitu istimewa karena ibu memasak makanan kesukaanku. Ibu selalu mempersiapkan makan sahur dan berbuka dengan hidangan terbaik...” Kau menceritakan itu dengan mata sebak.

Tentu kau rindu dengan masa-masa itu, aku tak pernah mengetahui secara tepat berapa puluh tahun ibumu telah berpulang, yang kutahu kau selalu mengingatnya bahkan merindukannya.

Ketika ceritamu telah sampai pada bagian ibumu, kau akan bercerita tentang ratusan ketupat dalam panci berukuran besar. Masa kecilmu tak selalu mudah, untuk menebus baju Lebaran kau harus membantu almarhumah ibumu dulu berjualan ketupat. Tak ada sepeda angin, kau akan merelakan kedua kakimu berjalan ratusan sampai kiloan meter untuk mengantar ketupat pesanan pelanggan. Bisnis kecil musiman yang kautekuni bertahun-tahun lamanya. Tak sekadar ketupat, kau juga bercerita tentang lepet lembu, makanan dari beras ketan berbalut janur. Lepet lembu sendiri sebesar kepalan tangan orang dewasa katamu, berbentuk sedikit lonjong. Gurih lantaran diberi parutan kelapa tak terlalu tua untuk menemani beras ketan.

Kau bercerita bagaimana tekunnya almarhumah ibumu dalam menyelesaikan semua pesanan ketupat dan lepet itu saat malam takbir. Pagi buta perempuan yang kaugambarkan bertubuh sedikit tambun itu akan duduk di bangku kecil dari kayu jati, kau menyebut bangku itu dengan sebutan dingklik. Dengan kedua mata yang masih cukup lekat lantaran kantuk, kau akan memperhatikan bagaimana ibumu dengan telaten memasukkan bulir-bulir beras ke dalam selongsong ketupat, betapa cekatan perempuan itu, pujimu berulang kali. Di depan pendiangan sembari menunggu air di dalam panci besar mendidih, ibumu akan mengisi semua selongsong ketupat, setelah ketupat selesai akan diteruskan mengisi selongsong lepet. Kau jujur, betapa terkesannya dirimu melihat keahlian almarhumah ibumu dulu.

”Kedua tangan almarhumah ibu begitu cekatan. Lepet itu ditali dengan tali dari serutan halus bambu. Aku tak pernah bisa membuatnya meski berkali-kali belajar.” Kau kembali mengenang-ngenang masa itu, mungkin di ingatanmu sedang tergambar seorang perempuan duduk di bangku kecil depan pendiangan dengan setumpuk ketupat di dekatnya.

Aku selalu menikmati ceritamu tentang masa lalu, meski ada waktu kau merasa gelisah, sedih, bahkan emosional karenanya. Kenangan memang menakutkan lantaran tak bisa diulang, waktu yang berlalu tak bisa diputar kembali, sedang ingatan sering membawa kita kembali ke tempat yang tak bisa lagi dijajaki.

***

Tampaknya kesedihanmu untuk pulang kampung begitu hebat di Ramadan ini. Kau selalu terlihat lesu, ada waktu kau terlihat marah saat aku menjawab bahwa betapa sulit membawamu kembali ke kampung halamanmu itu. Aku telah mencari di manakah harusnya aku mengantarmu pulang, sudah kujelajahi mengenai kampung halamanmu, tapi tak kutemukan tempatmu dulu. Alamat itu masih ada, namun tak ada desa kecil nan bersahaja.

Berpuluh tahun lalu, setelah kau pergi merantau dan kedua orang tuamu wafat, desa tempatmu bertumbuh telah ditenggelamkan. Masyarakat sangat membutuhkan pasokan air, maka haruslah dibuat sebuah danau buatan atau kau menyebutnya waduk. Seluruh desamu ditenggelamkan, begitu pula makam kedua orang tuamu. Tak ada gambaran sebuah desa lagi selain hamparan air.

Kampung halamanmu nan bersahaja telah bersilih rupa menjadi wadah air berjuta-juta kubik banyaknya. Aku tak bisa membawamu pulang ke kampung halaman di hari Lebaran bukan lantaran tak ingin, melainkan tak kuasa memperlihatkan betapa tak ada kenangan yang seolah disisakan untukmu selain ingatan yang kauperam di dalam kepala. Aku tak ingin melihatmu patah hati berulang kali. Sesungguhnya aku ingat dulu kau nyaris pingsan saat kita berkunjung ke sana, di sela perjalanan melancong ke Jogja. Kau tak bisa menahan haru saat melihat kampung, makam, dan lain-lainnya kini tak lebih dari genangan raksasa.

Menuju malam Lebaran kau sempat gelisah. Sejak pagi kau menyebut-nyebut nama ibumu, kau mengatakan bahwa telah dipanggil pulang untuk merayakan Lebaran. Aku tak mengerti mengapa kau harus pulang Lebaran bersama ibumu, sampai akhirnya selepas magrib aku menemukan jawabannya. Kau tertidur nyenyak, seolah sedang bermimpi indah. Aku kehilangan dirimu sore itu. Dirimu pulang, rohmu kembali pulang ke kampung halaman, sedangkan tubuhmu kuantar pulang ke Karet Bivak keesokan harinya. (*)

Salatiga, Maret 2024

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore